Sabtu, 30 Juli 2022

TRADISI SATU SURO MASYARAKAT KEDEWAN

 



kang lisan dipo


MRDR-Tanggal satu Muharram atau oleh masyarakat Jawa sering dikenal sebagai 1 suro 2022 jatuh pada tanggal 30 Juli 2022. Dalam budaya masyarakat Jawa, malam peringatan tahun baru tersebut dianggap sakral. Tahun baru Islam yang jatuh di bulan Muharam ini juga bertepatan dengan awal penanggalan kalender Jawa, yang dimulai dari bulan Suro. Satu Muharam atau Suro yang memiliki catatan peristiwa penting di dunia Islam ataupun kebudayaan masyarakat Jawa, telah menjadi latar munculnya berbagai festival atau perayaan untuk memperingatinya. Bagi umat Islam universal, tanggal 1 Muharam pertama kali dicetuskan oleh Khalifah Umar Bin Khatab ketika Islam pertama kali melakukan hijrah dan berkembang. Peringatan yang dikenal dengan 1 Muharam ini akhirnya ditetapkan sebagai Tahun Baru Hijriah.

Di sisi lain, orang-orang Jawa yang mengenal hari tersebut sebagai Malam Satu Suro juga melakukan beberapa tradisi untuk memperingatinya, misalnya dengan kegiatan suran atau selamatan. Perayaan-perayaan ini tak hanya ditujukan untuk kegiatan keagamaan, tapi juga bagian perayaan kultur budaya sekaligus pelestarian tradisi masyarakat.

Tradisi Perayaan 1 Suro Masyarakat Jawa, Kang lisandipo mengatakan satu Suro atau ‘Suroan’ dianggap sebagai hari besar yang sakral bagi warga Kedewan,Kab.Bojononegoro secara turun-temurun, di mana masyarakat kebanyakan mengharapkan bisa mendapatkan berkah pada hari besar ini, ritualnya diistilahkan sebagai ‘Ngalap Berkah’. Bagi masyarakat Kedewan, Suroan merupakan kegiatan berdoa bersama sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan. Selain itu, tradisi ini dapat mempererat tali persaudaraan. Pada malam satu Suro, biasanya masyarakat Kedewan melakukan kegiatan laku prihatin untuk tidak tidur semalam suntuk atau selama 24 jam. Kegiatan Suroan di Kedewan diisi dengan acara selametan (kenduri). Perayaan-perayaan saat Muharam memang lekat dengan apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai keagamaan. Selain Kedewan, daerah lain di pulau Jawa juga memiliki tradisi berbeda pada saat Muharam.

Seperti Grebek Suro di Ponorogo. Grebeg Suro merupakan kirab mengelilingi benteng keraton, puncaknya adalah pembagian tumpeng raksasa yang disediakan oleh pihak keraton. Tumpeng tersebut merupakan simbol keberkahan untuk masyarakat. Berbeda dengan Grebeg Suro, ritual di Temanggung, Jawa Tengah, dilaksanakan dengan bernyanyi bersama Kidung Jawi yang berjudul Dhandang Gula, dilanjutkan dengan acara Kacar-kucur dan doa keselamatan bersama yang dipimpin oleh kaur keagamaan. Selain itu, warga lereng Gunung Semeru di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, melestarikan ritual larung pendam setiap 1 Muharam. Tradisi ini sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. Dengan tujuan yang sama, warga Desa Kenjo, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar tradisi adat sapi-sapian dalam menyambut 1 Muharam. Tradisi-tradisi ini hanya sebagian kecil dari ragam tradisi menyambut 1 Muharam di Jawa. Masyarakat Jawa punya cara masing-masing memperingati sebuah momen yang pada dasarnya tak hanya sebuah pergantian tahun semata.

Tradisi malam Tahun Baru Jawa meliputi:

Meditasi, praktik umum dalam kebudayaan Kajawèn. Tujuannya adalah untuk mengkaji diri dari apa yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya dan untuk mempersiapkan apa yang akan dilakukan di masa yang akan datang. Dua jenis utama meditasi dalam tradisi siji sura meliputi:

Tapa Bisu: meditasi dalam keheningan
Tirakatan dan tuguran: begadang semalaman melakukan refleksi diri dan berdoa. Banyak orang juga menziarahi makam dan tempat ibadah selama bertirakat.

Ruwatan: adat membersihkan secara spiritual, seperti rumah atau bangunan, dari roh jahat.

Kirab Budaya adalah praktik umum dalam kebudayaan keraton Jawa. Tujuannya adalah untuk memperingati tahun baru Jawa dan memperbaiki diri. Kirab budaya dalam tradisi siji sura meliputi:

Kirab Malam Siji Sura: diadakan oleh Kesunanan Surakarta, sebuah tradisi membersihkan benda pusaka keraton dan kirab kerbau albino (kebo bule).

Kirab Mubeng Beteng: diadakan oleh Kesultanan Yogyakarta, sebuah tradisi dengan tidak berbicara (tapa bisu), berkeliling melintasi tembok keraton. Bermakna mengesampingkan hal-hal yang negatif, serta melambangkan keprihatinan dan introspeksi diri.

 

 

Jumat, 22 Juli 2022

Mengapa Imam Madzhab Tidak Pakai Hadits Bukhori Muslim..?

 



Lisandipo - Kenapa para Imam Mazhab seperti Imam Malik tidak memakai hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang katanya merupakan 2 kitab hadits tersahih?

Untuk tahu jawabannya, kita harus paham sejarah. Paham biografi tokoh2 tersebut.

Imam Malik lahir tahun 93 Hijriyah. Sementara Imam Bukhari lahir tahun 196 H dan Imam Muslim lahir tahun 204 H. Artinya Imam Malik sudah ada 103 tahun sebelum Imam Bukhari lahir. Paham?

Perbandingan tahun lahir Imam Madzhab dan Imam Hadits

Apakah hadits para Imam Mazhab lebih lemah dari Sahih Bukhari dan Sahih Muslim?

Justru sebaliknya. Lebih kuat karena mereka lebih awal lahir daripada Imam Hadits tsb.

Rasulullah SAW bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah pada kurunku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in).”[HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533 ]

Siapakah pengikut ulama SALAF sebenarnya?
1) Imam Hanafi lahir: 80 hijrah
2) Imam Maliki lahir: 93 hijrah
3) Imam Syafie lahir: 150 hijrah
4) Imam Hanbali lahir: 164 hijrah

Jadi kalau ada manusia akhir zaman yang berlagak jadi ahli hadits dengan menghakimi pendapat Imam Mazhab dengan Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, ya keblinger. Hasil “ijtihad” mereka pun berbeda-beda satu sama lain…

Biar kata misalnya menurut Shahih Bukhari misalnya sholat Nabi begini2 dan beda dgn sholat Imam Mazhab, namun para Imam Mazhab seperti Imam Malik melihat langsung cara sholat puluhan ribu anak2 sahabat Nabi di Madinah. Anak2 sahabat ini belajar langsung ke Sahabat Nabi yang jadi bapak mereka. Jadi lebih kuat ketimbang 2-3 hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari 100 tahun kemudian.

Imam Bukhari dan Imam Muslim pun meski termasuk pakar hadits paling top, tetap bermazhab. Mereka mengikuti mazhab Imam Syafi’ie.

Penelitian Hadits Dilakukan Oleh Empat Imam Mazhab

Para imam mazhab yang empat, Imam Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, sama sekali tidak pernah menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Mereka sama sekali tidak pernah menyentuh kitab Shahih Bukhari dan Muslim.

Kenapa?

Pertama, karena mereka lahir jauh sebelum Bukhari (194-265 H) dan Muslim (204-261 H) dilahirkan. Tidak mungkin mereka mengandalkan keshahihan hadits dari generasi berikutnya. Yang lebih logis adalah orang yang ada pada generasi berikutnya justru mengandalkan hasil penellitian hadits pada generasi sebelumnya.

Kedua, karena keempat imam mazhab itu sendiri justru merupakan pakar hadits paling top di zamannya. Tidak ada ahli hadits yang lebih baik dari mereka di zamannya. Apa urusannya pakar hadits paling top harus mengambil hadits dari kalangan yang lebih pantas menjadi murid atau cucu muridnya?

Ketiga, karena keempat imam mazhab itu hidup di zaman yang secara zaman lebih dekat ke Rasulullah SAW dari pada masa Bukhari atau Muslim sendiri. Maka kualitas periwayatan hadits mereka dipastikan lebih kuat dan lebih terjamin ketimbang kualitas di masa-masa berikutnya.

Kalau dalam bidang teknologi, memang semakin maju zamannya ke depan, ilmunya semakin lengkap dan sempurna. Karena penemuan yang dulu kemudian disempurnakan dengan penemuan terbaru. Sebaliknya, dalam bidang penelitian hadits, semakin mundur dan mendekati sumber aslinya, akan semakin baik.

Dan semakin menjauhi zaman aslinya tentu akan semakin lemah hasil penelitiannya. Tidak akan ada lagi penemuan baru macam teknologi komputer dalam ilmu hadits. Karena yang dilakukan adalah penelitian keshahihan hadits dan bukan kesempurnaan produk pabrik.

Keempat, justru Bukhari dan Muslim sendiri malah bermazhab kepada para imam mazhab yang empat itu. Banyak kajian ilmiyah yang memastikan bahwa Bukhari sendiri dalam fiqihnya bermazhab Syafi’i.

Memang ada sementara tokoh saking antipatinya dengan mazhab fiqih, lalu mengarang-ngarang sebuah nama mazhab imaginer baru yang tidak pernah ada bukti kongkritnya dalam sejarah. Mereka sebut mazhab ‘ahli hadits’. Dari namanya saja sudah bermasalah. Dikesankan seolah-olah yang tidak bermazhab ahli hadits berarti tidak menggunakan hadits dalam mazhabnya. Padahal mazhab ahli hadits itu adalah mazhab para ulama peneliti hadits untuk mengetahui keshahihan hadits dan bukan dalam menarik kesimpulan hukum (istimbath).

Kalaulah benar pernah ada mazhab ahli hadits yang berfungsi sebagai metodologi istimbath hukum, lalu mana ushul fiqihnya? Mana kaidah-kaidah yang digunakan dalam mengistimbath hukum? Apakah cuma sekedar menggunakan sistem gugur, bila ada dua hadits, yang satu kalah shahih dengan yang lain, maka yang kalah dibuang?

Lalu bagimana kalau ada hadits sama-sama dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi isinya bertentangan dan bertabrakan tidak bisa dipertemukan?

Al-Imam Asy-syafi’i sejak 13 abad yang lalu sudah bicara panjang lebar tentang masalah kalau ada beberapa hadits sama-sama shahihnya tetapi matannya saling bertentangan, apa yang harus kita lakukan? Beliau sudah menulis kaidah itu dalam kitabnya : Ikhtilaful Hadits yang fenomenal itu.

Cuma baru sampai mengetahui suatu hadits itu shahih, sebenarnya pekerjaan melakukan istimbath hukum belum selesai. Meneliti keshahihan hadits baru langkah pertama dari duapuluh tiga puluh langkah dalam proses istimbath hukum, yang hanya bisa dilakukan oleh para mujtahid.

Umat Terlalu Awam Dapat Informasi Diplintir

Sayangnya banyak sekali orang awam yang tersesat mendapatkan informasi yang sengaja disesatkan oleh kalangan tertentu yang punya rasa dengki. Seolah-olah imam mazhab yang empat itu kerjaannya cuma merusak agama dengan mengarang-ngarang agama dan menambah-nambahinya seenak udelnya. Sejelek itu para perusak agama melancarkan fitnah keji kepada para ulama.

Padahal keempat imam mazhab itu di zamannya justru merupakan para ulama peneliti hadits (muhaddits). Sebab syarat untuk boleh berijtihad adalah harus menguasai hadits dan mampu meneliti sendiri kualitas keshahihan haditsnya. Imam Malik itu penyusun Al-Muwaththa’ yang tiga khalifah memintahnya agar dijadikan kitab standar negara. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal sendiri lebih dikenal sebagai ahli hadits ketimbang sebagai mujtahid dalam ilmu fiqih.

Entah orientalis mana yang datang menyesatkan agama, tiba-tiba datang generasi yang awam agama dan dicuci otaknya, dengan mudahnya dan teramat lancang menuduh keempat imam mazhab itu sebagai orang-orang bodoh dengan ilmu hadits. Hadits shahih versi Bukhari dibanding-bandingkan secara zahir dengan pendapat keempat mazhab, seolah-olah pendapat mazhab itu buatan manusia dan hadits shahih versi Bukhari itu datang dari Allah yang sudah pasti benar.

Orang-orang awam yang kurang ilmu itu dengan seenaknya menyelewengkan ungkapan para imam mazhab itu dari maksud aslinya : “Bila suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku”. Kesannya, para imam mazhab itu bodoh dengan keshahihan hadits, lalu menggantungkan mazhabnya kepada orang-orang yang hidup dua tiga abad sesudahnya.

Padahal maksudnya bukan begitu. Para ulama mazhab itu menolak suatu pendapat, karena menurut mereka hadits yang mendasarinya itu tidak shahih. Maka pendapat itu mereka tolak sambil berkata,”Kalau hadits itu shahih, pasti saya pun akan menerima pendapat itu. Tetapi berhubung hadits itu tidak shahih menurut saya, maka saya tidak menerima pendapat itu”. Yang bicara bahwa hadits itu tidak shahih adalah profesor ahli hadits, yaitu para imam mazhab sendiri. Maka wajar kalau mereka menolaknya.

Tetapi lihat pengelabuhan dan penyesatan dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Digambarkan seolah-olah seorang Imam Asy-Syafi’i itu tokoh idiot yang tidak mampu melakukan penelitian hadits sendiri, lalu kebingungan dan menyerah menutup mukanya sambil bilang,”Saya punya mazhab tapi saya tidak tahu haditsnya shahih apa tidak, jadi kita tunggu saja nanti kalau-kalau ada orang yang ahli dalam bidang hadits. Nah, mazhab saya terserah kepada ahli hadits itu nanti ya”.

Dalam hayalan mereka, para imam mazhab berubah jadi badut pandir yang tolol dan bloon. Bisanya bikin mazhab tapi tidak tahu hadits shahih. Sekedar meneliti hadits apakah shahih atau tidak, mereka tidak tahu. Dan lebih pintar orang di zaman kita sekarang, cukup masuk perpustakaan dan tiba-tiba bisa mengalahkan imam mazhab.

Cara penyesatan dan merusak Islam dari dalam degan modus seperti ini ternyata nyaris berhasil. Coba perhatikan persepsi orang-orang awam di tengah kita. Rata-rata mereka benci dengan keempat imam mazhab, karena dikesankan sebagai orang bodoh dalam hadits dan kerjaanya cuma menambah-nambahi agama.

Parahnya, setiap ada tradisi dan budaya yang sesat masuk ke dalam tubuh umat Islam, seperti percaya dukun, tahayyul, khurafat, jimat, dan berbagai aqidah sesat, sering diidentikkan dengan ajaran mazhab. Seolah mazhab fiqih itu gudangnya kesesatan dan haram kita bertaqlid kepada ulama mazhab.

Sebaliknya, orang yang harus diikuti adalah para ahli hadits, karena mereka itulah yang menjamin keshahihan hadits.

Bukhari dan Muslim Bukan Penentu Satu-satunya Keshahihan Hadits

Ini perlu dicatat karena penting sekali. Shahih tidaknya suatu hadits, bukan ditentukan oleh Bukhari dan Muslim saja. Jauh sebelum keduanya dilahirkan ke dunia, sudah ada jutaan ahli ahli hadits yang menjalankan proses ijtihad dalam menetapkan keshahihan hadits.

Dan boleh jadi kualitasnya jauh lebih baik. Kualitas keshahihannya jauh lebih murni. Hal itu karena jarak waktu dengan sumber aslinya, yaitu Rasulullah SAW, lebih dekat.

Hadits di zaman Imam Bukhari sudah cukup panjang jalur periwayatannya. Untuk satu hadits yang sama, jalur periwayatan Bukhari bisa sampai enam atau tujuh level perawi yang bersambung-sambung. Sementara jalur hadits Imam Malik cuma melewati tiga level perawi. Secara logika sederhana, kualitas keasliannya tentu berbeda antara hadits yang jalurnya tujuh level dengan yang tiga level. Lebih murni dan asli yang tiga level tentunya.

Bayangkan kalau Imam Bukhari hidup hari ini di abad 15 hijriyah, haditsnya bisa melewati 40-50 level perawi. Secara nalar kita bisa dengan mudah menebak bahwa kualitas periwayatannya jauh lebih rendah. Beda tiga sampai empat level saja sudah besar pengaruhnya, apalagi beda 50 level, tentu jauh lebih rendah.

Apalagi yang jadi ahli haditsnya bukan selevel Bukhari, tetapi sekedar mengaku-ngaku saja. Tentu kualitas haditsnya jauh lebih parah lagi. Bukhari itu melakukan perjalanan panjang dan lama ke hampir seluruh dunia Islam. Tujuannya untuk bertemu langsung para perawi hadits yang masih tersisa. Maksudnya untuk mengetahui langsung seperti apa kualitas hafalan dan kualitas keislaman mereka.

Menurunnya Kualitas Periwayatan Seiring Dengan Semakin Jauhnya Jarak

Semakin jauh jarak waktu antara sumber hadits dengan zaman penelitiannya, maka kualitasnya akan semakin menurun. Sebab jalur periwayatannya akan menjadi semakin panjang. Jumlah perawi yang harus diteliti jelas lebih banyak lagi.

Seandainya seorang dengan kualitas Imam Bukhari hidup di abad kelima, tentu nilai kualitas penelitiannya akan jauh lebih rendah dibandingkan beliau hidup di abad ketiga. Dan bila beliau hidup di abad kelima belas, sudah bisa dipastikan kualitas penelitiannya akan jauh lebih rendah, bahkan beliau malah tidak bisa melakukan apa-apa.

Karena tidak mugkin lagi melakukan penelitian langsung bertemu muka dengan para perawi. Maka keistimewaan hadits Bukhari akan anjlog total. Untungnya beliau hidup di zaman yang tepat, yaitu di masa para perawi masih hidup dan bisa diwawancarai langsung.

Maka siapapun orangnya, kalau baru hari gini melakukan penelitian tentang para perawi, kelasnya rendah sekali. Semua hasil penelitian semata-mata mengandalkan data sekunder, yaitu hanya sekedar menelliti di tingkat literatur dalam perpustakaan. Sebuah pekerjaan yang sangat mudah, karena semua mahasiswa fakultas hadits semester pertama pun bisa mengerjakannya.

Dosen hadits bisa dengan mudah mengajarkan teknik takhrij hadits kepada anak-anak muda mahasiswa usia di bawah 20 tahunan, lalu menugaskan masing-masing melakukan takhrij untuk dapat nilai. Bahkan pekerjaan seperti itu bisa dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak pernah belajar ilmu hadits di bangku kuliah. Cukup dengan otodidak, sedikit diberi pelatihan singkat, asalkan tekun tiap hari nongkrong di perpustakaan, bisa melakukan penelitian kelas-kelas rendahan. Siapapun bisa melakukannya dengan mudah.

Apalagi zaman sekarang sudah ada ratusan software hadits. Cukup masukkan keyword saja, maka semua data bisa keluar dalam hitungan detik saja.

Kalau baru sampai disitu kok tiba-tiba merasa lebih tinggi derajatnya dari Bukhari dan Muslim, rasanya ada yang salah dalam logika. Jangankan merasa lebih tinggi, merasa selevel saja pun sudah tidak sopan.

Maka kita tidak bisa menyamakan kualitas keshahihan hadits yang diteliti di abad kelimabelas ini, dengan kualitas penelitian hadits yang dilakukan di abad ketiga zaman Bukhari dan Muslim. Nilainya jauh berbeda. Dan kualitas penelitian hadits di abad pertama dan kedua tentu jauh lebih baik lagi.

Anehnya, jarang sekali umat Islam yang bisa membedakan, mana kualitas penelitian kelas tinggi dan mana kelas rendahan. Sebab sekarang ini kita hidup di zaman serba awam dan serba tidak tahu.

Kadang-kadang umat Islam terkecoh dengan mudah dengan penampilan fisik. Asalkan ada orang pintar ceramah, kebetulan jenggotnya panjang, bajunya gamis ala arab, pakai surban melilit kepala, tangannya sibuk memutar-mutar biji tasbih, suaranya diberat-beratkan, langsung kita anggap dia adalah ulama yang tahu segala-galanya. Padahal satu pun hadits tidak dihafalnya.

Lebih lucu lagi, kalau ada tokoh yang bisa menyalah-nyalahkan ulama betulan, melancarkan kritik ini dan itu, bahkan mencaci maki dengan kata-kata kasar, maka oleh pendukungnya yang sama-sama awam dijadikan seolah-olah dia adalah utusan Allah yang turun langsung dari langit, menjadi anugerah bagi alam semesta.

Seolah-olah kebenaran milik dia semata. Orang lain yang tidak setuju dengan seleranya dianggap bodoh semua. Ulama yang tidak sejalan dengannya akan dihujani cacian makian dan sumpah serapah.

Semoga Allah SWT mengampuni kita semua. Aamiin ya rabbal alamin

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Oleh: Ahmad Sarwat, Lc., MA

Menyikapi Ajakan Kembali Kepada Al- Qur'an Dan Hadits

 

Lisandipo -  ~ Mengaji di masjid yang jama’ahnya relatif “heterogen”, saya biasanya menyampaikan beberapa pendapat ulama, dengan dalil-dalil mereka secara singkat. Tujuannya, agar kita bisa saling menghormati “perbedaan berdasar dalil” yang terjadi di tengah umat, apalagi jama’ah satu masjid.


Masjid tempat sejuk mencari ketenangan dan keberkahan, bukan ruang panas untuk menyatakan “pendapat saya yang paling benar”. Kita berhak mengikuti suatu madzhab, tapi tidak berhak memaksa orang lain untuk mengikuti madzhab dan pendapat kita. Tentu, selagi semua berdasarkan dalil normatif.

Namun, di tengah menyampaikan pendapat para ulama, ada saja yang masih menganggap:
• “Itu kan omongan orang”.
•“Harusnya Anda langsung mengambil dari al-Qur’an dan Sunnah!”

Seperti pagi itu, saat menyampaikan kuliah subuh rutin di salah satu masjid di kota Malang. Materi yang saya sampaikan adalah fikih, salah satu disiplin ilmu yang penuh dengan khilaf ulama. Saat saya sampaikan beberapa pendapat itu, tiba-tiba ada jama’ah putri mengajukan interupsi. “Ustadz, seharusnya Anda langsung merujuk pada al-Qur’an dan Hadits. Jangan kata orang, kata orang!”

Pernyataan semacam ini sekilas benar dan luhur. Namun sangat tidak elok bila tujuannya untuk mempertentangkan pendapat (baca: hasil ijtihad) ulama dengan al-Qur’an dan Sunnah. Orang awam diteror dengan al-Qur’an, diteror dengan Rasulullah: “Itu kan kata kiaimu, bukan kata Allah dan Rasulullah!”

Saya mengajak pengaju interupsi itu menalar secara mendasar logikanya untuk kembali pada Qur’an Hadits. “Baik bu, kita sepakat untuk merujuk pada al-Qur’an dan Sunnah. Tapi kalau misalnya ada dua hadits, yang satu shahih, yang satu dha’if, ibu pilih hadits yang mana?”

“Jelas yang shahih,” jawab beliau.

“Lalu, siapa yang mengatakan hadits ini shahih, hasan, atau dha’if? Al-Qur’an, Rasulullah, apa ulama, yang menurut ibu ‘kata orang’ itu?”

Beliau tidak menjawab.

Saya tidak bermaksud “mensekak” beliau. Tapi memang “kembali pada al-Qur’an dan Sunnah” adalah tugas para ulama mujtahid, bukan orang awam seperti kita ini.

Kita memiliki banyak keterbatasan untuk langsung mengambil kesimpulan hukum dari suatu dalil (istinbath al-ahkam).

Nyatanya, status suatu hadits itu shahih, hasan, atau dha’if pun, adalah produk ijtihad ulama (orang), bukan kata al-Qur’an dan Sunnah. Maka, merujuk ijtihad ulama, bukan berarti meninggalkan al-Qur’an dan Sunnah.

Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Faris Khoirul Anam, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PCNU Kota Malang

IJAZAH BAHASA JAWA DARI NABI KHIDIR

 

KH. Idris Marzuqi Lirboyo

Lisandipo - Mengenai doa dengan bahasa daerah setempat, KH. Idris Marzuqi Lirboyo pernah berkata: “Kowe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidhir. Nabi Khidhir yen ketemu wali Jowo ngijazahi dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”


(Kamu kalau menerima doa bahasa Jawa dari kiai, mantapkan dirimu. Para kiai tidak mengarang sendiri (doa tersebut). Para kiai menerima doa-doa Jawa dari wali-wali terdahulu. Wali menerima ijazah doa Jawa dari Nabi Khidhir. Nabi Khidhir kalau bertemu wali Jawa mengijazahi doa pakai bahasa Jawa, bertemu wali Madura pakai bahasa Madura).

Ada kisah unik mengenai doa bahasa Jawa ini. Suatu ketika di Tanah Arab terjadi kekeringan, lama sekali tidak turun hujan. Mengatasi masalah ini, Raja Hijaz mendatangkan ulama-ulama Makkah dan Madinah, mereka dimintakan doa di depan Ka’bah agar hujan turun segera. Usai seluruh ulama berdoa, hujan tak kunjung turun, malah semakin panas hingga beberapa bulan. Raja Hijaz pun tiba-tiba ingat ada satu ulama yang belum diundang untuk dimintai doa.

Dicarilah ulama tersebut, setelah ketemu, ternyata perawakan ulama tersebut pendek, kecil dan kulitnya hitam. Ulama tersebut bernama Syaikh Nawawi bin Umar Tanara al-Bantani al-Jawi. beliau ahli bahasa Arab dan mempunyai karya 40 judul lebih, semuanya berbahasa Arab.

Kemudian, ulama asal dusun Tanara, Tirtayasa, Banten tersebut berangkat berdoa meminta hujan kepada Allah Swt. di depan Ka’bah. Anehnya, meski Syaikh Nawawi Banten mampu berbahasa Arab dengan fasih, di depan Ka’bah beliau berdoa meminta hujan dengan memakai bahasa Jawa. Para ulama Makkah dan Madinah yang berdiri di belakangnya menyadongkan tangan sambil berkata “Amin”. Mbah Nawawi berdoa: “Ya Allah, sampun dangu mboten jawoh, kawulo nyuwun jawoh.” (Ya Allah, sudah lama tidak hujan, saya minta segera turun hujan).

Seketika hujan pun turun. Yang berdoa berbahasa Arab dengan fasihnya tidak mujarab, sedangkan dengan bahasa Jawa malah justru ampuh. 

SYAIKH JUMADIL KUBRO

 


Makom Sayyid Djumadil Kubro

Lisandipo - Sayyid Jumadil Kubro adalah salah seorang Ulama yang memiliki karomah cukup besar.
Beliau adalah seorang yang mempunyai garis keturunan cukup dekat dari Rasulullah SAW. Hal ini dapat kita lihat dari silsilah berikut : Sayyid Jumadil Kubro bin Sayyid Zainul Khusen bin Sayyid Zainul Kubro bin Sayyid Zainul Alam bin Sayyid Zainal Zainal Abidin bin Sayyid Khusen bin Siti Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW.

Beliau lahir pada tahun 1349 M di kota Samarkhand, dekat kota Bukhoro, wilayah Negara Azarbaijan.
Di sana beliau dididik dan dibesarkan oleh ayahanda Sayyid Zainul Khusen, sampai akhirnya beliau menikah dan dikaruniai tiga putra. Ketiga putra beliau itu adalah :
 1. Sayyid Ibrahim (Ibrahim As-Samarkhandi)
 2. Maulana Iskha’
 3. Sunan Aspadi yang dikawin oleh Raja Rum.


Datang ke Chempa

Syeh Jumadil Kubro datang ke Chempa sekitar tahun 1399 M. Chempa adalah nama sebuah kerajaan yang berada di wilayah Negara Muangthai. Kedatangan beliau ke sana bertujuan untuk berdakwah sambil berdagang selain juga bersilaturahmi menemui putra dan cucu beliau. Di Chempa (Muangthai) sebelumnya telah ada kegiatan dakwah Islam yang dilakukan sejak tahun 1395 M oleh Maulana Ibrahim (putra Sayyid Jumadil Kubro), sehingga tugas Sayyid Jumadil Kubro hanya mengembangkan dan meningkatkan pemahaman ajaran Islam, termasuk Raja Chempa yang bernama Kuntoro. Sayyid Ibrahim menikah dengan Dewi Candrawulan putri Raja Kuntoro.
Dari perkawinan itu, beliau dikaruniai dua putra yaitu :
1. Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
2. Sayyid Ali Murtadho/Raja Pandito (beliau bertempat tinggal di kerajaan Chempa bersama Raja Kuntoro).


Datang Pertama Ke Pulau Jawa

Setelah tugas-tugas Sayyid Jumadil Kubro di Chempa selesai maka beliau meneruskan perjalanannya berdagang dan berdakwah ke pulau Jawa, beliau datang abad ke 14 atau tepatnya pada tahun 1399 M. Kegiatan dakwah beliau banyak dilakukan dilingkungan kerajaan karena barang-barang dagangan beliau lebih banyak diminati dan dibutuhkan oleh keluarga kerajaan Majapahit atau kaum bangsawan yakni berupa emas, intan zamrud, dll. Dalam perjalanan dakwah dan dagangnya ke pulau Jawa, Sayyid Jumadil Kubro merasakan banyak kesulitan. Hal ini disebabkan karena masih kuatnya pengaruh ajaran agama Hindu dan Budha yang didukung besarnya pengaruh kerajaan saat itu. Kepercayaan Animisme (pemuja roh-roh nenek moyang) serta kepercayaan Dinamisme (pemuja benda-benda yang dianggap keramat) merupakan hambatan tersendiri di dalam mengembangkan ajaran Islam, sehingga masyarakat pada masa itu sangat sulit untuk dimasuki ajaran Islam. Terlebih lagi dengan maraknya pemujaan-pemujaan pada roh nenek moyang dan benda-benda yang dianggap punya keramat atau kekuatan gaib, ini mendatangkan dukungan kekuatan Ïstidraj”dari jin, setan, genderuwo sehingga kebanyakan wilayah di pulau Jawa menjadi daerah yang angker. Beliau hanya sempat melakukan kegiatan dakwah dan perdagangan dari lingkungan kerajaan secara sembunyi-sembunyi. Tentunya hasil yang dicapai jelas sangat tidak mengembirakan. Kegiatan dakwah secara terang-terangan tidak memungkinkan beliau lakukan, karena hal tersebut tentu akan mengundang kemurkaan kerajaan Majapahit serta kemurkaan kekuatan-kekuatan gaib dari bangsa jin, setan dan sejenisnya. Kesulitan Sayyid Jumadil Kubro agak berkurang setelah beliau bertemu dengan seorang Tumenggung Mojopahit yang bernama Tumenggung Satim Singomoyo. Karena hanya beliaulah seorang pejabat kerajaan yang bisa diajak musyawarah tentang kesulitannya di dalam berdakwah untuk mengembangkan ajaran Islam. Kala itu beliau sudah memeluk agama Islam walaupun hal ini tidak berani dilakukan secara terang-terangan. Dengan keberadaan Tumenggung Satim Singomoyo, akhirnya sedikit demi sedikit masyarakat Mojopahit memeluk Islam, termasuk yang berada di lingkungan kerajaan. Walaupun hal ini masih dinilai kurang memuaskan. Setelah beliau wafat, beliau dimakamkan disebuah tempat yang sekarang menjadi satu dengan makam Sayyid Jumadil Kubro.

Melawan Penguasa dan Kekuatan Gaib

Pada masa itu, Majapahit telah mencapai puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Raja hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Pengaruhnya sangatlah besar dan luas hingga hampir mencakup seluruh wilayah Nusantara sebagaimana tekad Patih Gajah Mada yang sangat terkenal dengan sumpahnya “Amukti Palapa”. Kemasyhuran dan kejayaan kerajaan Majapahit ini dikenal hingga ke luar negeri, seperti halnya kerajaan Tiongkok. Dalam situasi yang demikian, Sayyid Jumadil Kubro akhirnya menyimpulkan bahwa untuk mengembangkan Islam dan melakukan dakwah pada masyarakat Jawa harus digunakan strategi atau cara yang dapat mempengaruhi penguasa kerajaan serta mengurangi dan mengalahkan pengaruh kekuatan gaib yang membuat hampir seluruh wilayah pulau Jawa menjadi angker.

Menyusun Kekuatan dan Pembentukan Wali Songo.

Kuatnya pengaruh kerajaan Hindu Majapahit maupun pengaruh keangkeran daerah-daerah di pulau Jawa tersebut, dirasakan Sayyid Jumadil Kubro sebagai sebuah tantangan dakwah yang harus dihadapi, namun untuk menghadapi tantangan penyiaran agama Islam yang sangat kuat tersebut, beliau merasakan kurang kuat jika dilakukan hanya dengan seorang diri. Oleh karenanya, pada sekitar 1404 M Sayyid Jumadil Kubro meninggalkan pulau Jawa untuk kembali ke kampung halamannya di Samarkhan dengan maksud melaporkan kepada kekhalifahan Islam Turki Sultan Muhammad I sekaligus beliau mengusulkan untuk segera menyusun kekuatan dakwah yang akan ditugaskan untuk menyiarkan agama Islam ke Pulau Jawa.

Dalam pertemuannya dengan Sultan Muhammad I (Raja Turki) saat itu, Sayyid Jumadil Kubro mengusulkan agar Sultan Muhammad I mengundang beberapa Ulama dari wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara yang memiliki karomah besar untuk diajak musyawarah membahas kegiatan dakwah Islam dan pengembangannya di Pulau Jawa. Setelah mendengar dan memperhatikan cerita pengalaman dan temuan Sayyid Jumadil Kubro tentang situasi dan keadaan agama Islam di daerah Pulau Jawa, Akhirnya disepakati bahwa untuk melakukan kegiatan dakwah ke Pulau Jawa ditugaskan 9 (Sembilan) orang Ulama (Auliya’) dengan berbagai keahliannya masing-masing. Sembilan orang itu akan dibagi jadi tiga bagian, Jawa Timur tiga orang Ulama, Jawa Tengah tiga orang Ulama, Jawa Barat tiga orang Ulama, dengan masa bhakti satu abad (seratus tahun) apabila terjadi ada yang wafat atau pindah dari Pulau Jawa harus mengadakan rapat untuk mencari penggantinya. Kesembilan Ulama tersebut selanjutnya dilembagakan dan ditetapkan dengan sebutan WALI SONGO yang untuk pertama kalinya beranggotakan Sembilan Ulama, beliau-beliau adalah :

1. Maulana Malik Ibrahim, ahli Tata Negara dan pengobatan. Berdakwah di Jawa Timur.
2. Maulana Ishak dari Samarkhan beliau putra dari Sayyid Jumadil Kubro, ahli pengobatan. Berdakwah di Jawa Timur. Setelah tugas di Blambangan Banyuwangi beliau pindah ke Pasai. Menurut KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) beliau wafat dan dimakamkan di Jombang, di Jl. Garuda Dusun Tambak Beras Desa Tambak Rejo Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang (Jawa Timur).
3. Maulana Jumadil Kubro dari Samarkhan Azarbaijan, ahli militer. Berdakwah di lingkungan kerajaan Majapahit, wafat di Troloyo Mojokerto tahun 1465 M.
4. Maulana Ahmad al Maghroby (Sunan Geseng) dari Maroko Afrika Utara. Beliau terkenal sebagai orang yang kuat dan sakti berdakwah di Jawa tengah, wafat di daerah Majapahit dan dimakamkan di Pesantrennya Jati Anom Klaten tahun 1465 M.
5. Maulana Malik Isroil dari Turki ahli mengatur Negara. Berdakwah di Jawa Tengah, wafat di daerah Gunung Santri Cilegon Jawa Barat tahun 1435 M.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar dari Persia (Iran) ahli pengobatan dan pertanian. Berdakwah di Jawa tengah, wafat di daerah Gunung Santri Cilegon Jawa Barat tahun 1435 M.
7. Maulana Hasanuddin dari Palestina, berdakwah di Jawa Barat dan wafat tahun 1462 M, dimakamkan di samping Masjid Banten Lama.
8. Maulana Alayuddin dari Palestina, berdakwah di Jawa Barat, wafat tahun 1462 M, dimakamkan di samping Masjid Banten Lama.
9. Syekh Subakir dari Persia (Iran) ahli supranatural (tumbal tanah angker, mengusir jin setan), tugasnya di Pulau Jawa, beliau kembali ke negerinya Persia tahun 1462 M setelah selesai tugasnya.

Dari Sembilan Ulama (Wali Songo) generasi pertama ini yang ditunjuk sebagai pemimpin atau Mufti adalah Maulana Malik Ibrahim yang bertempat tinggal di Gresik. Sembilan Ulama Wali Songo diberangkatkan oleh Sultan Muhammad I dari Turki ke Pulau Jawa pada tahun 1404 M dengan mengendarai kapal dagang dan membawa barang dagangan yang diperkirakan laku diperdagangkan di Pulau Jawa.

Datang Di Pulau Jawa Yang Kedua

Untuk kedua kalinya Sayyid Jumadil Kubro datang di pulau Jawa bersama rombongan 9 Ulama yang terorganisir dalam lembaga dakwah WALI SONGO. Kedatangan Wali Songo ini membuat semakin geram dan galaknya kekuatan gaib yang selama ini menguasai Pulau Jawa. Semakin mengamuknya keangkeran jin, setan, dan makhluk sejenisnya disebabkan karena kekhawatiran akan hilangnya pengaruh dan berkurangnya pemuja-pemuja mereka, sebab kehadiran dan kegiatan dakwah para ulama wali songo yang akan berlawanan dengan apa yang selama ini dilakukan oleh masyarakat yang ada di Pulau Jawa yakni memuja jin, setan dan lain sebagainya.

Memasang Tumbal Di Pulau Jawa

Melihat situasi keangkeran pulau Jawa yang semakin menjadi-jadi, Syeikh Maulana Malik Ibrahim selaku Mufti Wali Songo yang pertama ini memberikan tugas kepada Syeikh Subakir salah satu anggota Wali Songo yang ahli dalam bidang metafisika (ahli mengusir jin, setan, genderuwo dan sejenisnya) untuk segera melakukan tugasnya memasang tumbal pada daerah-daerah angker di Pulau Jawa sehingga dapat melumpuhkan kekuatan-kekuatan gaib yang selama ini menguasai pulau Jawa. Setelah Syeikh Subakir memasang tumbal di puncak gunung tidar Magelang, selanjutnya Sayyid Jumadil Kubro dan semua wali membagi tugas dakwah. Sayyid Jumadil Kubro memilih wilayah dakwah di lingkungan kerajaan Majapahit dengan alasan beliau sudah memiliki jalur masuk lingkungan kerajaan Majapahit karena istri Prabu Kertawijaya (Brawijaya I) yakni Dewi dwarawati/Darawati Murdaningrum putri Raja Chempa adalah adik kandung dari menantu beliau Dewi Chandrawulan(istri Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi).

Perang Saudara Kerajaan Majapahit

Setelah wafatnya Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk sekitar abad 14 mulai surut pamor dan kejayaan Majapahit. Perang saudara antara Wikramawardhana dengan Wirabumi mengakibatkan melemahnya kendali pusat pemerintahan kerajaan Majapahit. Penduduk Majapahit terutama dari Kasta Sudra dan Waisya (golongan masyarakat buruh dan petani) yang selama ini menempati derajat rendah dan hina mulai mengalami pembangkangan dan pemberontakan. Mereka merasa tidak dapat menerima adanya perbedaan derajat manusia. Kondisi yang demikian ini sangat menguntungkan bagi penyebaran agama Islam yang mengajarkan persamaan harkat, martabat dan derajat manusia. Ajaran ini menjadi berkembang, utamanya dikalangan masyarakat petani, nelayan, buruh dan pegawai kerajaan. Perlahan tapi pasti, masyarakat kelas bawah mulai berbondong-bondong memeluk agama Islam, mengikuti ajaran Wali Songo yang dengan bijak dan santun menyampaikan misi dalam dakwahnya.

Mohon Pertolongan untuk Mengatasi Kekacauan.

Keadaan di sekitar pusat kerajaan Majapahit semakin lama semakin memprihatinkan, baik akibat terjadinya perang saudara maupun akibat sering terjadinya perselisihan diantara pegawai kerajaan yang sudah memeluk Islam dan pegawai kerajaan yang masih beragama Hindu. Situasi ini ternyata membawa manfaat yang cukup besar bagi Sayyid Jumadil Kubro, penampilan yang sejuk tutur bicara yang santun ketika beliau beranjangsana ke keluarga kerajaan menjumpai Dewi Dwarawati (Darawati Murdaningrum) ternyata dapat membawa ketentraman di hati Prabu Kertawijaya. Hingga suatu saat, Dewi Dwarawati menyampaikan usul pada Prabu Majapahit atas saran pandangan Sayyid Jumadil Kubro supaya Prabu Majapahit mengundang seorang tokoh yang dianggap mampu menentramkan situasi kerajaan yang sedang dilanda kekacauan itu.

Saat kondisi kerajaan seperti itu maka Prabu Kertawijaya mengundang semua adipati dan para Tumenggung diajak rapat bersama yang intinya mencari orang (Ulama) yang bisa menenteramkan Majapahit. Keputusan rapat menyetujui Sayyid Ali Rahmatullah dari Chempa Muangthai (Putera Sayyid Ibrahim Samarkhani) akan diminta untuk menentramkan Majapahit. Maka para adipati yang telah ditunjuk untuk berangkat ke Chempa dan diantarkan oleh Maulana Iskhak bersama-sama berangkat menuju Chempa menemui Sayyid Ali Rahmatullah.

Rombongan Majapahit Tiba di Chempa

Setelah rombongan adipati Majapahit dan Maulana Iskhak tiba di Chempa disambut baik oleh Raja Chempa dan mengadakan musyawarah di ruangtamu kerajaan juga ditemui oleh Sayyid Ibrahim Samarkhandi dan anaknya Sayyid Ali Rahmatullah. Setelah hasil musyawarah ada kesepakatan maka berangkatlah semua adipati Majapahit, Sayyid Maulana Iskhak besertaSayyid Ali Rahmatullah yangdiantar oleh ayahnya Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi dan saudaranya Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito), bersama-sama berangkat naik kapal menuju pulau Jawa. Kapal yang ditumpangi rombongan tersebut berlabuh di Gresik. Setibanya di Gresik, tiba-tiba Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi sakit dan dibawa ke Tuban, yang akhirnya wafat dan dimakamkan di Tuban (Kecamatan Palang). Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) meneruskan perjalanan dakwah keliling ke Nusa tenggara, Madura sampai ke Bima. Beliau disana mendapat julukan Panditho Bima. Setelah itu beliau kembali ke Gresik dan akhirnya wafat di Gresik. Beliau di Gresik mendapat julukan Raden Santri. Beliau mempunyai anak bernama Haji Ustman (Sunan Ngudung) yang menikah dengan Siti Syariáh binti Sunan Ampel mempunyai seorang anak bernama Amir Hasan.
Dan Haji Ustman (Sunan Ngudung) juga menikah dengan dewi Sarah binti Tumenggung Wilwatikta Tuban mempunyai 2 anak :
1. Dewi Sujana yang dinikahkan dengan Umar Said (Sunan Muria)
2. Amir Haji (Sunan Kudus) menikah dengan Dewi Rukhila binti Sunan Bonang.


Adapun Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanannya ke Mojopahit. Beliau beserta rombongan utusan raja Mojopahit dari Gresik naik kapal mendarat di Canggukemudian menuju Kerajaan Mojopahit. Adapun dalam silsilah Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) adalah anak Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi sedangkan Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi anak Sayyid Jumadil Kubro. Sayyid Ali Rahmatullah dan Sayyid Ali Murtadho adalah cucu Sayyid Jumadil Kubro. Sedangkan Maulana Iskhak adalah anak kandung Sayyid Jumadil Kubro.

Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Majapahit

Setelah tiba di Majapahit Sayyid Ali Rahmatullah disambut baik oleh Prabu Brawijaya I (Prabu Ketawijaya) dan permaisurinya, Dewi Dwarawati (bibinya). Sedangkan Maulana Iskhak pergi ke Gresik.

Setelah mengadakan musyawarah dengan keluarga kerajaan, Sayyid Ali Rahmatullah mohon supaya semua Adipati dan Tumenggung dikumpulkan di ruang sidang kerajaan. Dengan semangat semua Adipati dan Tumenggung bahkan para prajurit berkumpul di ruang sidang Kerajaan Majapahit bahkan tidak ketinggalan Ki Ageng Supo Bungkul juga ikut hadir. Setelah Sayyid Ali Rahmatullah memberi nasehat tentang hokum syariát Islam, Tauhid dan Akhlaq semua sama takjub karena belum pernah mendengar. Apalagi pada waktu menerangkan tentang larangan-larangan hokum Syariát Islam dan akibat-akibat larangan agama Islam, banyak orang yang merasa ketakutan karena kenyataannya memang begitu. Yang hingga sekarang sering dikenal : MOH – LIMO (tidak mau dengan lima larangan), selama Sayyid Ali Rahmatullah berada di Kerajaan Majapahit, Sayyid Jumadil Kubro sering datang ke kerajaan perlu menawarkan barang dagangannya yang berupa emas, berlian, dan lain-lain pada warga kerajaan, sambil memberi saran pada Sayyid Ali Rahmatullah yang masih cucunya itu.

Berdakwah di Lingkungan Kerajaan

Sayyid Ali Rahmatullah berdakwah dengan cara terbuka memberi nasehat dengan lunak dan sabar. Mengangkat martabat umat yang miskin dan janda-janda apalagi yatim piatu. Dan pada waktu Sayyid Ali Rahmatullah membuat santunan pada janda-janda dan yatim piatu membuat kerajaan jadi tenteram. Raja Kertawijaya semakin kagum atas pemberian santunan yang dilakukan Sayyid Ali Rahmatullah karena hal itu belum pernah dilakukan di kerajaan. Sayyid Ali Rahmatullah diambil menantu oleh Prabu Ariyotejo Tuban, dijodohkan dengan anaknya yang bernama Dewi Candrawati dan setelah menikah Sayyid Ali Rahmatullah memberi nama baru pada istrinya dengan nama : Nyai Ageng Manila, selain itu Sayyid Ali Rahmatullah juga diberi hadiah wilayah di Surabaya dan bangunan rumah yang tepatnya di Ampel Denta.

Sayyid Ali Rahmatullah Datang ke Ampel

Keberangkatannya dari kerajaan Majapahit menuju Ampel denta Surabaya, Sayyid Ali Rahmatullah diantarkan para penduduk yang sudah masuk Islam dan Ki Ageng Sopa Bungkul juga ikut mengantarkan sambil berdakwah di Krian, Wonokromo dan Kembang Kuning Surabaya. Pada tahun 1421 M Wali Songo mengadakan rapat di Ampel denta untuk mengangkat Sunan Ampel masuk anggota Wali Songo sebagai pengganti Maulana Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 M. Rapat Wali songo yang pertama kali diselenggarakan ini, banyak dihadiri Adipati Majapahit. Bahkan Prabu Kertawijaya juga ikut hadir dan mendukung Sunan Ampel sebagai Mufti, karena beliau mengenang jasa Sunan Ampel di kerajaan Majapahit. Terbentuklah anggota Wali Songo Periode II. Pelaksanaan rapat tersebut diselenggarakan pada tanggal 17 Ramadhan, maka setiap bulan Ramadhan di masjid dan makam Sunan Ampel penuh sesak dikunjungi ribuan peziarah bertujuan untuk memperingati pengangkatan Sunan ampel menjadi Mufti Wali songo.

Sayyid Jumadil Kubra Wafat

Sayyid Jumadil Kubro memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan agama Islam. Bahkan usianya yang sudah lebih dari seratus tahun belum pernah surut perjuangannya. Dalam usia yang sangat tua itu Sayyid Jumadil Kubro punya niat ingin mati syahid. Dengan niatnya yang baik itu Sayyid Jumadil Kubro bertapa empat puluh hari memohon kepada Allah semoga akhir hayatnya dijadikan orang yang mati syahid.

Pada tahun 1465 M Wali Songo sedang membangun Masjid Demak, sedangkan kerajaan Majapahit mengadakan rapat mendadak. Semua Adipati hadir, kecuali Raden Patah, atas usulan Adipati yang beragama Hindu, Raden Patah harus dipanggil dan diadili karena tidak mentaati peraturan kerajaan Majapahit. Dengan semangat para Adipati yang beragama Hindu berangkat ke Demak bertujuan memanggil paksa Raden Patah. Namun setelah di Demak, para Adipati tersebut ditemui oleh Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi. Setelah para Adipati menyampaikan tujuannya memanggil paksa Raden Patah, dengan nada keras Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi mengusir para Adipati yang punya niat buruk itu. Sehingga terjadilah pertempuran yang akhirnya para Adipati mundur kembali ke Mojopahit. Setelah itu, Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi beserta para santri berangkat ke Majapahit, tujuannya memerangi para Adipati yang masih beragama Hindu itu. Setibanya di Majapahit terjadilah peperangan yang sangat dahsyat sehingga banyak Adipati yang gugur. Namun sudah menjadi niat Sayyid Jumadil Kubro ingin mati syahid, maka saat itu juga Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi juga gugur di medan peperangan. Dan tempat terjadinya peperangan di desa Troloyo pada tanggal 15 Muharram 857 H. kedua orang tersebut menjadi anggota Wali Songo selama 61 tahun (enam puluh satu) tahun. Adapun Sayyid Jumadil Kubro dimakamkan di desa Troloyo, dan beliau wafat berusia 116 tahun. Sedangkan Maulana Maghribi oleh para santrinya dimakamkan di Jatianom Klaten Jawa Tengah (di pesantrennya). Setelah peperangan sudah reda, Wali Songo mengadakan rapat yang ketiga kalinya bertempat di Ampel perlu mengangkat anggota baru untuk menggantikan anggota yang sudah wafat.

Sirna Hilang Kertaning Bumi

Wafatnya Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi (1465 M) bukanlah suatu kemenangan bagi kerajaan Majapahit, malah membuat malapetaka. Apakah yang terjadi? Prabu Kertabumi semakin beringas dan menuduh beberapa Adipati dengan tuduhan munafik, karena banyaknya Adipati dan Tumenggung yang gugur. Atas tuduhan sang Raja tersebut banyak Adipati yang menentang tuduhannya, sehingga terjadi perselisihan dan sebagian ada yang memisahkan diri dari wilayah kerajaan Majapahit. Setelah itu sang raja bersama-sama Adipati yang masih mengikuti kerajaan Majapahit mengadakan rapat mendadak, karena ada kabar sebagian Adipati ada yang mau menyerang kerajaan Majapahit yang di dukung oleh Kerajaan Kediri. Dengan adanya kabar tersebut Prabu Kertabumi sangat kebingungan. Di saat itulah Tumenggung Satim Singomoyo mulai berani mengajukan seruan pada Kertabumi yang intinya Prabu Kertabumi diajak masuk agama Islam dan kerajaan disatukan dengan Wali Songo agar kerajaan lebih kuat. Namun usulannya ditolak oleh Prabu Kertabumi. Pada tahun 1478 M pasukan perang dari Keling Kediri yang dipimpin Girindra Wardana yang jumlahnya ribuan dengan mendadak langsung melingkari kerajaan Majapahit. Sedangkan Prabu Girindra Wardana langsung masuk menemui Prabu Kertabumi. Prabu Kertabumi tidak mengadakan perlawanan tapi langsung membuat surat penyerahan kerajaan Majapahit kepada Girindra Wardana. Setelah Prabu Kertabumi membuat surat penyerahan, beliau pergi ke lereng Gunung Lawu.

Gugurnya Sunan Ngudung

Pada tahun 1481 M Girindra Wardana menyerang Sunan Giri, karena khawatir akan berdirinya kerajaan Islam di Jawa Timur. Namun usahanya gagal karena mengalami kekalahan, meskipun mengalami kekalahan, usahanya pantang mundur, beliau masih punya rencana ingin menyerang Wali Songo dengan cara sangat licik yang intinya orang Islam Majapahit bisa berperang melawan Wali Songo. Raden Patah membuat keputusan untuk mencabut surat penyerahan kerajaan Majapahit dari Girindra Wardana yang ditandatangani Prabu Kertabumi. Dikirimlah utusan ke Majapahit, namun oleh Prabu Girindra Wardana ditolak dengan cara kasar hingga menyulut peperangan. Karena Raden Patah merasa punya hak waris kerajaan Majapahit, maka Raden Patah menugaskan Sunan Ngudung sebagai senopati Demak untuk memimpin perang melawan Majapahit. Terjadilah peperangan yang sangat hebat. Perang antara Demak dan Majapahit berlangsung hingga hampir dua tahun. Di akhir peperangan itulah Sunan Ngudung gugur melawan pasukan perang Majapahit. Pasukan Demak hampir mengalami kekalahan. Sunan Kalijaga bersiasat, dengan cara sembunyi-sembunyi menemui pemimpin perang Majapahit, yang ternyata pemimpin perang adalah Raden Husen adik kandung Raden Patah. Setelah mengadakan pertemuan barulah Raden Husen mengerti kalau orang Islam Majapahit diadu oleh Girindra Wardana untuk melawan Wali Songo. Atas hasil musyawarah Raden Husen dengan Sunan kalijaga membawa hasil yang sangat memuaskan. Pasukan perang yang dipimpin Raden Husen bergabung dengan pasukan Demak berbalik arah sama-sama menyerang pasukan Majapahit. Raja Girindra Wardana merasa terdesak dan melarikan diri. Keterangan sejarah babad tanah Jawa, setelah Raden Patah berhasil merebut kerajaan Majapahit dari kekuasaan Prabu Girindra Wardana, Raden Patah beserta Sunan Kalijaga langsung ke Sunan Giri perlu melaporkan atas kemenangannya. Setelah kedua anggota Wali Songo itu tiba menghadap Sunan Giri, selain melaporkan keberhasilannya merebut kerajaan Majapahit juga mengadakan musyawarah tentang kelanjutan kerajaan Majapahit. Sunan Kalijaga membuat usulan : Sebaiknya bangunan Istana Kerajaan dibongkar dan diboyong ke Demak sekaligus pusaka-pusaka yang ada sebagai bukti kalau raden Patah adalah hak waris kerajaan Majapahit. Sunan Giri sebagai mufti Wali Songo menerima usulan Sunan Kalijaga. Maka kemudian diputuskan "Bangunan istana dan semua pusaka kerajaan Majapahit di boyong ke Demak”.

KYAI SAHAL DAN DUIT NU

 


Lisandipo- Suatu hari PBNU mengadakan sebuah acara di Surabaya, mengundang duta-duta besar negara sahabat, dan pelayanan-nya pun VVIP.

Lebih-lebih KH. Sahal Mahfudz, sebagai Ra'is Aam PBNU, tentu bisa mendapatkan pelayanan yg lebih. Di Kota Pahlawan ini, Mbah Sahal -sapaan mulianya, selama dua hari bermalam di sebuah hotel berbintang. Tapi, ketika panitia acara ingin membayar kamar hotel yg ditempati Kyai Sahal, beliau bilang:
 "Ndak usah, aku jek duwe duet dewe," ( Tidak usah, saya masih punya uang sendiri), sambil berjalan ke kasir . Panitia pun masih merayu Kyai Sahal agar mau dibayari oleh panitia.
Mbah Kyai Sahal tetap bilang "Ndak usah" sambil beliau mengeluarkan uang dari tasnya .

Setelah itu panitia masih berkata:
"Mana bon-nya yai, biar kami ganti."

Mbah Sahal dawuh: "Ndak usah, aku moh nganggo duite NU. Aku gowo duetku dewe ae. Nek NU iku urip-urip NU, ojo sepisan-pisan golek urip nok NU." (Tidak usah, saya tidak mau menggunakan duitnya NU. Saya pakai uang saya sendiri saja. Di NU itu harus menghidupi NU, jangan sekali-kali mencari hidup di NU) .
Sifat Mbah Kyai Sahal patut kita contoh. Beliau benar-benar tulus, ikhlas mengabdi untuk NU. Padahal sekelas Ra'is Aam seperti Mbah Sahal tentu mudah sekali bagi beliau untuk mendapat fasilitas dari NU. Allah Kariim...

Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT . Al-Fatihah..

KH.Hasan Gipo Ketua Tanfidziyah NU Pertama

 


Lisandipo-
Hasan Gipo atau Hasan Basri lahir di Surabaya pada tahun 1869 di  Kampung Sawahan (sekarang Jl. Kalimas Udik). Ia lahir dari lingkungan keluarga santri kaya yang bernama Dinasti Gipo, bertempat tinggal di kawasan perdagangan elite di Ngampel yang bersebelahan dengan pusat perdagangan di Pabean, sebuah pelabuhan sungai yang berada di tengah kota Surabaya yang berdempetan dengan Jembatan Merah. Dinasti Gipo yang berdarah Arab, merupakan saudagar kaya di daerah komplek Ampel, Surabaya. Hingga kampung tempat Gipo kemudian dikenal dengan Gang Gipo dan keluarga ini mempunyai makam kelaurga yang dinamai makam keluarga, makam Gipo di kompleks Masjid Ampel. Gang Gipo sendiri kini berubah menjadi Jalan Kalimas Udik.

Dinasti Gipo ini didirikan oleh Abdul Latif Sagipoddin (Tsaqifuddin) yang disingkat dengan Gipo. Nama Gipo sebenarnya merupakan singkatan Sagipoddin dari bahasa Arab Saqifuddin, tsaqaf (pelindung) dan al-dien (agama). Jika dirunut silsilahnya, Hasan Gipo masih punya hubungan keluarga dengan KH. Mas Mansyur, salah seorang pendiri Muhammadiyah, yang juga adalah keturunan Abdul Latief Gipo.
Dinasti Gipo ini adalah masih santri bahkan kerabat dari Sunan Ampel, karena itu keislamannya sangat mendalam. Sebagai pemuda yang hidup dikawasan bisnis yang berkembang sejak zaman Majapahit itu, Abdul Latif Sagipoddin memiliki etos kewiraswastaan yang tinggi.
Prosesi bisnis Sagipodin ditekuni mulai dari pedagang beras eceran, dengan cara itu ia memiliki kepandaian tersendiri dalam menaksir kualitas beras. Keahliannya itu semakin hari semakin tenar, sehingga para pedagang dan terutama importir beras banyak yang menggunakan jasanya sebagai konsultan kualitas beras. Dengan profesinya itu ia mulai mendapat banyak rekanan bisnis dengan modal keahlian bukan uang.
Ketika usinya sudah menjelang dewasa, ia diambil menantu oleh seorang saudagar Cina. Engan modal besar dari mertuanya itulah ia bisa melakukan impor beras sendiri dari Siam, sehingga keuntungannya semakin besar dan semakin kaya. Perjalannya ke luar negeri semakin memperbesar rekanan bisnisnya, beberapa pengusaha dari Pakistan, Arab Persia dan India digandeng, sehingga semakin memperbesar volume ekspornya.
Selain itu juga mulai melakukan diversifikasi usaha dengan mengimpor tekstil dari India. Karena itu ia menjadi pengusaha besar di kawasan perdagaangan Pabean, sehingga tanah-tanah di situ dikuasai.
Tetapi ketika perkembangan bisnisnya terlalu ekspansif, maka akhirnya ia kebobolan juga, karena beras yang diimpor dari Siam itu dipalsu oleh rekanan bisnisnya dari Pakistan ditukar dengan wijen, yang waktu itu harga wijin sangat rendah dibanding harga beras. Selain itu wijen tidak dibutuhkan dlam skala besar. Dengan penipuan itu bisnisnya sempat limbung selama beberapa bulan. Modal mandek, uang tidak bisa diputar karena tertimbun menjadi wijen yang tidak laku dijual, paling laku satu dua kilo untuk penyedap makanan. Sebagai anak muda yang baru bangkit, sangat terpukul dengan penipuan itu.
Namun mertuanya yang pengusaha kawakan itu tidak menyalahkan malah menyabarkan, karena kerugian merupakan risiko setiap bisnis. Ini sebuah cobaan dari Allah yang harsu diterima. Dengan sabar, syukur dan tawakkal serta usaha keras Insyaallah suatu ketika keuntungan akan diperoleh kembali, demikian nasehatnya. Sebagai seorang santri yang taat ia hanya bisa pasrah dan berdoa serta tetap berusaha.
Di tengah kelesuan bisnisnya itu tiba-tiba pemerintah Belanda membutuhkan wijen dalam jumlah besar. Tentu saja tidak ada pengusaha yang memiliki dagangan yang aneh itu, setelah dicari kesana kemari akhirnya Belanda tahu bahwa Sagipoddin memiliki segudang wijen. Belanda sangat senang dengan ketersediaan wijen yang tak terduga itu, karena itu berani membeli dengan harga mahal.
Bak pucuk dicinta ulam tiba, maka minat Belanda itu tidak disia-siakan. Karena wijen itu dulunya dibeli seharga beras, maka Sagipoddin minta sekarang dibeli dengan seharga beras. Belanda yang lagi butuh tidak keberatan dengan harga mahal yang ditentukan itu, lalu dibelilah seluruh wijen Sagipoddin, maka keuntungan yang diperoleh berlipat ganda, sehingga perdaganannya juga semakin besar.
Keuntungan itu dipergunakan untuk mempercepat ekspansi bisnisnya, dan kawasan perdagangan yang strategis mulai dibelinya, yang kemudian dijadikan pertokoan dan pergudangan. Akhirnya ia juga bisnis persewaan toko, penginapan dan pergudangan. Sebagai seorang santri taat ia banyak pergunakan hartanya untuk sedekah membangun pesantren dan masjid.
Banyak kiai besar yang diundang kerumahnya, Sagipoddin sangat senang bila kiai yang berkunjung mau menginap di rumahnya, maka pulangnya mereka diberi berbagai macam sumbangan untuk pembangunan sarana pendidikan dan ibadah, sehingga dalam waktu singkat Sagipoddin sangat terkenal di Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Walaupun ia bukan ulama tetapi karena masih keturunan ulama, maka ia sangat hormat dan mencintai ulama.
Abdul Latif Sagipuddin ini menikah dengan Tasirah mempunyai 12 orang anak, salah satunya bernama H. Turmudzi, yang kawin dengan Darsiyah, mempunyai anak yang bernama H. Alwi, kemudian Alwi mempunyai sepuluh orang anak yang salah satunya bernama Marzuki. Dari H. Marzuki itulah kemudian lahir seorang anak yang bernama Hasan, yang lahir pada 1869 di Ampel pusat kota Surabaya yang kemudian dikenal dengan Hasan Gipo. Jadi ia merupakan generasi kelima dari dinasti Gipo.
Sebagai seorang yang mampu secara ekonomi Hasan Gipo juga mendapatkan pendidikan cukup memadai selain belajar di beberapa pesantren di sekitar surabaya, juga sekolah di pendidikan umum ala Belanda. Meskipun mendapatkan pendidikan model Belanda tetapi jiwa kesantriannya masih sangat kental dan semangat kewiraswastaannya sangat tinggi, sehingga kepemimpinan ekonomi di kawasan bisnis Pabean masih dipegang oleh keluarga itu, hingga masa Hasan Gipo.
Karena hampir seluruh kiai Jawa Timur merasa sebagai santri dan pengikut Sunan Ampel, maka setiap saat mereka berziarah ke makam keramat di kota Surabaya itu. Kunjungan mereka itu banyak disambut oleh keluarga Gipo di Ampel. Persahabatan Hassan Gipo dengan para ulama yang telah dirintis kakeknya terus dilanjutkan, sehingga ia sangat dikenal oleh kalangan ulama, sebagai saudagar, aktivis pergerakan dan administratur yang cerdik. Tidak sedikit pertemuan para ulama baik untuk bahtsul masail maupun untuk membahas perkembangan politik yang dibeayai dan difasilitasi oleh Hasan Gipo. Sebagai sesama penerus Sunan Ampel dan sesama sudagar membuat Hasan Gipo sering bertemu dengan KH Wahab Hasbullah dalam dunia pergerakan.
Sebagai seorang pedagang dan sekaligus aktivis pergerakan yang tinggal di kawasan elite Surabaya, hal itu sangat membantu pergerakan Kiai Wahab. Dialah yang selalu mengantar Kiai Wahab menemui para aktivis pergerakan yang ada di Surabaya, seperti HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo dan lain sebagainya. Di situlah Kiai Wahab dan Hasan Gipo berkenalan dengan para murid HOS Cokroaminoto seperti Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, SK Trimurti dan masih banyak lagi. Di situlah para aktivis pergerakan nasional baik dari kalangan nasionais dan santri bertemu merencanakan kemerdekaan Indonesia.
Pertemuan antara Hasan Gipo dengan Kiai Wahab serta kiai lainnya makin intensif. Ia kemudian terlibat aktif dalam pendirian Nahdlatul Wathan (1914), walaupun tidak tercatat sebagai pengurus. Selanjutnya ia juga menjadi peserta diskusi dalam forum Taswirul Afkar (1916).
Karena itu pengetahuannya sangat teruji, dan kemapuan berargumentasinya sangat memukau. Selain itu ia juga telah aktif terlibat dalam Nahdlatut Tujjar (1918) yang memang bidangnya. Dalam forum semacam itu ia berkenalan dengan ulama lainnya makin intensif seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan beberapa kiai besar lainnya di Jawa  yang telah lama menjadin pershabatan dengan keluarga Ampel itu.
Bahkan ketika para ulama membentuk Komite Hejaz dan akan mengirimkan utusan ke Makah, sumbangan Hasan Gipo juga sangat besar, karena dialah yang mempelopori penghimpunan dana dan ia sendiri pun menyumbang sangat besar. Atas prestasinya yang banyak memberikan sumbangan, dan memiliki kecakapan teknis dalam menangani administrasi organisasi serta penggalangan dana masyarakat.
Karena itu ketika Nahdlatul Ulama berdiri, dalam sebuah pertemuan terbatas yang dipimpin Kiai Wahab Hasbullah di kawasan Bubutan Surabaya itu ia langsung ditunjuk sebagai Hoftbestoor (Pengurus Besar) NU sebagai Ketua Tanfidziyah  dan usul itu langsung disetujui oleh Kiai Hasyim Asy’ari yang sebelumnya sudah sangat mengenal Hasan Gipo serta latar belakang keluarganya.
Walau sebagai pengurus NU bisnisnya tetap berkembang, bahkan kemudian juga dikembangkan ke sektor properti, ia banyak memiliki perumahan, pertokoan dan pergudangan yang ini kemudian disewakan, saat itu kebutuhan terhadap sarana bisnis tinggi, karena itu tingkat hunian propertinya juga tinggi, sehingga keuntungan yang diperoleh dari sini juga tinggi, sehingga ia bisa menyumbang banyak ke NU, baik ketika Muktamar maupun untuk sosialisasi dan pengembangan NU ke daerah-daerah lain, sehingga bisa dilihat NU berkembang sangat cepat dari Surabaya, pada tahun kedua telah menyebar di Jawa Tengah, bahkan pada tahun kelima telah menyebar ke Jawa Barat, bahkan ke Kalimantan dan Singapura.
Seperti dilukiskan Saifuddin Zuhri, yang menggabarkan Hasan Gipo sebagai sosok yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga gagah secara fisik, karena itu ketika terjadi perdebatan tentang masalah teologi antara Kiai Wahab Hasbullah dengan Muso yang ateis itu bisa mengganti kedudukan Kiai Wahab yang bosan menghadapi Muso yang hanya bisa debat kusir tanpa nalar dan tanpa hujjah yang benar. Maka dengan gagah berani ia  melakukan  debat dengan Muso tokoh PKI yang dikenal sebagai Singa podium itu ditaklukkan. Setiap argeumennya bisa dipatahkan, sehingga alumni Moskwo dan anak didik Lenin itu keteteran. Tidak hanya itu Arek Suroboyo ini juga berani menantang Muso berkelahi secara fisik. Anehnya Muso yang biasanya brangasan itu tidak berani menghadapi tantangan Hasan Gipo.
Selain menguasai ilmu agama, setiap orang pesantren selalu menguasai ilmu kanuragan, sebab ini bagian dari tradisi pesantren, dan tampaknya Hasan Gipo juga memiliki ilmu ini, itu yang membuat Muso ngeri menghadapi. Hasan Gipo. Jabatan ketua Tanfidziyah itu dipegang Hasan Gipo selama dua masa jabatan, baru pada Muktamar NU Ketiga 1929 di Semarang ia digantikan oleh KH. Noor sebagai ketua Tanfidziyah yang baru juga berasal dari Surabaya. Selanjutnya pada Muktamar NU ke 12 tahun 1937 di Malang kemudian KH Noor digantikan oleh KH Mahfud Shiddiq, kakak kandung KH Ahmad Shiddiq.
Pada periode awal ini, NU memang banyak diikuti oleh para pengusaha, selain Hasan Gipo ada beberapa pengusaha besar yang masuk ke NU yaitu Haji Burhan Gresik. Ia memiliki pabrik kulit dan persewaan rumah dan gudang. Kemudian adalagi pengusaha besar Haji Abdul Kahar Kawatan Surabaya, yang menguasai perdagangan pertanian di Jawa Timur. Kemudian ada H. Jassin, seorang pemilik pabrik garmen yang khusus diekspor ke India dan Pakistan. Mereka semuanya pernah aktif terlibat aktif dalam Nahdlatut Tujjar, maka ketika NU berdiri secara otomatis mereka bergabung ke NU. Dengan demikian NU bisa berdiri mandiri tanpa bantuan dari kolonial, sehingga bebas menentukan gerak organisasinya dan mengatur pendidikan pesantren yang diselenggarakannya.
Pada periode awal ini selain menggiatkan bidang pendidikan, maka NU sangat peduli dengan usaha pengembangan ekonomi dengan membentuk berbagai syirkah. Usaha impor sepeda dari Eropa dirintis sejak tahun 1935, karena untuk mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri, dan tentunya sangat dibutuhkan sebagai sarana transportasi warga NU dalam mengembangkan jamiyah.
Selain itu juga dibentuk badan pengimpor gerabah dan barang kebutuhan lainnya dari Jepang. Usaha itu terus dikembangkan, kemudian NU juga mulai masuk lebih serius dalam bidang industri percetakan dan lain sebaginya. Atas inisiatif para kiai dan para tujjar yang ada dalam tubuh NU itu pergerakan NU semakin gencar, sehingga dalam waku singkat menjadi organisasi besar.
Selain bisnis yang bersifat kolektif para pengurus NU sejak dari Kiai Hasyim Asy’ari, termasuk Kiai Wahab Hasbullah. Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Bisri, Kiai Muslih Purwokerto, semuanya mempunyai usaha sendiri-sendiri. Usaha itu dibangun selain untuk memenuhi ekonomi keluarga yang terpenting bisa menjadi kemandirian agar tidak minta bantuan pada pemerintah kolonial Belanda. Jajaran pimpinan NU terdiri dari orang-orang independen, tidak ada yang menggantungkan ekonominya pada birokrasi kolonial.
Karena itu sejak masa kemerdekaan kemandirian kiai dan NU tetap terjaga, karena memiliki kemandirian secara ekonomi. Pembangunan ekonomi di sini ditempatkan sebagai strategi politik untuk menjaga kemandirian dan kebebasan warga dari ketergantungan dan tekanan dari penjajah.
Setelah tidak lagi menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU, Hasan Gipo kembali mengembangkan bisnisnya, hingga semakin besar. Sebagian hasil keuntungannya tetap disumbangkan pada NU dan pesantren. Sebab pada masa rintisan NU membutuhkan banyak dana, apalagi saat itu Muktamar dilaksanakan setiap tahun, maka sudah pasti Hasan Gipo tergerak untuk membantu pendanan Muktamar NU setiap kali diselenggarakan, baik di Surabaya maupun di luar Jawa.
Aktivitas Hasan Gipo terus dilanjutkan hingga menjelang wafatnya  pada tahun 1934, kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Ampel dalam pemakaman khusus keluarga Sagipoddin. Ia mempunyai tiga orang anak, yang kemudian melanjutkan usaha bisnisnya dan sekaligus sebagai penerus dinasti Gipo yang masih terus aktif hingga saat ini.
Lahu Al-Faatihah
Sumber: Fahmi Ali

Memperkuat zakar

Khusus untuk laki-laki   Memperkuat zakar Sebagian ada dari para suami yang mengeluh mungkin karena masalah dengan kejantannya bukan berarti...