Senin, 23 Oktober 2023

Memperkuat zakar

Khusus untuk laki-laki  

Memperkuat zakar Sebagian ada dari para suami yang mengeluh mungkin karena masalah dengan kejantannya bukan berarti mengajarkan hal-hal yang aneh. solusi ini mungkin bisa menjadi solusi bagi mereka yang mengalami hal tersebut. 

Cobalah lakukan hal ini untuk menguatkan Zakar anda yang lemah.
Hendaklah membaca doa ini sebanyak 7 kali sambil tahan nafas lalu tiupkan kepada air hangat yang suam2 kemudian mandikanlah Zakar/kemaluan anda dengan air yang sudah dibacakan tadi.

Cobalah amalkan sehingga 7 hari berterusan, Insya Allah.selama 7 hari jgn berhubungan dulu dgn istri.BismillahirrohamirrohiimYaa Qahar,Yaa Qahar,yaqahar ,Lailla Haa illallah, WahidulQahar.

Aura kalacakra.

ilustrasi



Amalan aura kalacakra ini...membuat mahkluk gaib berenergi negatif akan kepanasan dan menjauh dari kita..mereka tidak nyaman dengan aura kalacakra ini.

Silahkan di buktikan sendiri. Berikut amalan nya : Ya Allah 11x tanpa nafas.Ya quddus 11x tanpa nafas.Ya salam 11x tanpa nafas. 

Setelah selesai tiup kan ke tangan dan usapkan ke seluruh tubuh yang bisa di jangkau tangan.

Minggu, 22 Oktober 2023

Makna Pasaran Dalam Filsafat jawa

 

ilustrasi weton jawa

Sandipo - Pasaran berasal dari kata dasar “pasar”, mendapat akhiran –an. Pasaran adalah sirklus mingguan yang berjumlah 5 hari. Yaitu Legi, Paing, Pon, Wage dan Kliwon. Disebut pasaran karena sistem ini lazim dipakai untuk membagi hari buka pasar (tempat jual beli) yang berada di 5 titik tempat.

Pada jaman dahulu salah satu sistem pemerataan perekonomian rakyat diatur dengan pembagian tempat jual beli (pasar). Yang berjumlah 5 titik tempat mengikuti arah mata angin (Timur, Selatan, Barat, Utara dan Tengah). Pasar Legi berada di Timur, Pasar Pahing berada di Selatan, Pasar Pon di Barat, Pasar Wage di Utara dan Pasar Kliwon berada di pusat / tengah kota. Pasar ini buka secara bergantian, mengikuti sirklus pasaran (pancawara) tersebut.

Sedangkan dalam masyarakat Melayu Islam, tempat jual beli (pasar) disebut pekan. Dan hari pasar memakai sirklus mingguan yang berjumlah 7 hari (Senin, Selasa dst). Misalnya ada Pasar Minggu, Pasar Senen dan seterusnya. Oleh sebab itu seminggu (7 hari) dalam  bahasa Melayu disebut juga sepekan (pekan=pasar).

Dengan demikian tidaklah aneh bila penamaan hari dan pasaran seperti Senin Kliwon, Selasa Legi dan seterusnya itu hanya dikenal di Jawa saja.

Menurut kepercayaan Jawa, hitungan Pasaran yang berjumlah lima itu sejalan dengan ajaran “Sedulur papat, kalima pancer”. Empat saudara, kelimanya pusat. Ajaran ini mengandung pengertian bahwa setiap diri manusia mempunyai empat saudara. Disebut saudara sebab keberadaannya ada sejak manusia masih dalam kandungan ibu. Pancer adalah diri kita (ke-aku-an atau Ego). Juga berkaitan dengan 4 unsur anasir pembentuk raga atau jasad yaitu tanah, air, api dan udara.

Hubungan pasaran, empat unsur dan Sedulur 4 itu adalah sebagai berikut :

Pasaran Legi bertempat di Timur, Anasir (elemen) Udara, memancarkan sinar (aura) putih.
Pasaran Paing bertempat di Selatan, anasir Api, memancarkan sinar merah.
Pasaran Pon bertempat di Barat, anasir Air, memancarkan sinar kuning.
Pasaran Wage bertempat di Utara, anasir Tanah, memancarkan sinar hitam.
Pasaran Kliwon tempatnya di pusat atau di tengah, anasir Eter, memancarkan sinar manca warna.

NEPTU

Neptu adalah nilai angka yang disematkan pada tiap-tiap hari dan pasaran. Neptu singkatan (jarwo dhosok) dari “geneping wetu” (penggenap keluarnya sebuah uraian), karena neptu memang digunakan untuk mewakili suatu hal dalam sebuah perhitungan (petungan).

Neptu Hari

Minggu neptu 5
Senin neptu 4
Selasa neptu 3
Rabu neptu 7
Kamis neptu 8
Jumat neptu 6
Sabtu neptu 9

Jumlah NEPTU HARI = 42

Bila diperhatikan dari urutan angka Neptu maka akan didapat bahwa hari JUMAT berada pada posisi tengah (PANCER). Sedangkan dalam sirklus Pasaran, KLIWON adalah PANCER.

Neptu Pasaran

Kliwon neptu 8
Legi neptu 5
Pahing neptu 9
Pon neptu 7
Wage neptu 4

Jumlah NEPTU PASARAN = 33

Jika neptu hari dan pasaran dijumlahkan : 42 +33 = 75.

Angka 75 ini bila dipecah :

7 = merupakan jumlah hari yang ada (7 hari)
5 = jadi jumlah pasaran 5.

Sedangkan bila kedua angka tersebut dijumlahkan maka akan ketemu jumlah bulan. 7 + 5 = 12 menjadi jumlah bulan dalam 1 tahun.

Penggabungan sirklus Hari dan Pasaran ini akan membentuk sirklus hari yang totalnya jumlahnya 35 hari. Para sesepuh Jawa banyak menggunakan neptu ini untuk berbagai macam perhitungan (petungan) nasib dan karakter.

Karakteristik HARI dan PASARAN

Menurut para sesepuh dan pinisepuh Jawa, setiap Hari dan Pasaran memiliki karakteristik tersendiri yang dipercayai berpengaruh kepada baik dan buruknya segala hal yang akan dikerjakan saat hari dan pasaran itu.

Arti Watak Hari dan Pasaran :

Lakune geni gedhe : watak baik, menggambarkan sumber kekuatan
Sri Kombang : watak baik, menggambarkan kemasyuran
Sri Agung : watak baik, menggambarkan kemuliaan
Gigis Wunu : watak kurang baik, menggambarkan kerugian
Pathol : watak buruk, menggambarkan penyakit
Peso : watak buruk, menggambarkan bahaya

Para sesepuh dan pinisepuh ilmu kasepuhan Jawa juga memakai karakteristik Hari dan Pasaran ini guna menentukan hari untuk mengawali suatu ritual ilmu ghaib. Bila kita mencermati hari ritual ilmu Aji kesaktian Jawa (Aji Panglimunan, Aji Brajamusti dll) akan didapati hampir semua ritual diawali pada hari yang berkarakter baik atau memakai dasar hitungan neptu. Ya, para sesepuh memang tidak sembarangan dalam memberikan tuntunan ilmu.

Jika dilihat dari tabel diatas, JUMAT LEGI adalah saat yang terbaik, karena menggambarkan sumber kekuatan (lakune geni gedhe). Itulah sebabnya masyarakat Jawa Timur, lebih memuliakan Jumat LEGI untuk keperluan mencari kesaktian. Salah satu contohnya pengijazahan Hizib Maghrobi. Dan memang Hizib ini lebih banyak berkembang di Jawa Timur.

Nah, sekarang anda mengerti alasan mengapa Hizib Maghrobi diijazahkan pada malam Jumat Legi. Jelas sekali Hizib Maghrobi adalah amalan ilmu hikmah yang berasal dari wilayah pesantren di Jawa Timur. Inilah gunanya memurnikan ajaran para Mahaguru. Agar kita dan beserta anak cucu kelak tetap bisa menelusuri asal-usul dan berbagai hal yang berkaitan dengan ilmu hikmah yang bersangkutan.

Lalu mengapa orang Jawa Tengah & Yogyakarta lebih memuliakan JUMAT KLIWON untuk mencari daya linuwih / kesaktian?

Selain hari Jumat Kliwon memiliki karakteristik baik, menggambarkan Kemasyuran (Sri Kombang). Hari Jumat sesuai angka neptu berada di Tengah (pancer). Sedangkan Pasaran letak Kliwon juga berada di tengah (pancer). Maka Jumat Kliwon adalah lambang dari diri pribadi sebagai Pancer. Sesungguhnya daya linuwih sejati memang bias dari pengenalan diri pribadi. Ingsun Sejati, Sedulur Sejati, Guru Sejati dan Sukma Sejati semuanya ada dalam diri manusia.

Begitu pula dengan hari Selasa Kliwon atau hari Anggara Kasih (Jawa Kuno) memiliki karakteristik yang baik, Sri Rahayu, melambangkan kemuliaan. Namun biasanya ritual pada hari-hari tersebut tidak dijalani dalam sehari saja, tetapi selama beberapa hari. Dengan memakai hitungan Neptu yang memiliki makna keutamaan (daya lebih).

Hari 3 NEPTU 40

Sebagaimana telah diuraiakan di atas, bahwa Hari dan Pasaran memiliki nilai angka yang disebut Neptu. Dalam khasanah ilmu kesaktian Jawa banyak amalan ritual ilmu yang mempergunakan puasa selama 40 hari. Dan bila ritual ini dirasa berat atau bersifat mendesak, misalnya keburu untuk segera digunakan. Maka para sesepuh Jawa memakai hitungan NEPTU hari dan Pasaran yang bila dijumlahkan hasilnya 40. Maka didapatlah 3 hari berturut-turut yang nilainya setara dengan 40 hari. Yaitu :

Selasa Kliwon + Rabu Legi + Kamis Pahing.
Rabu Pon + Kamis Wage + Jumat Kliwon.
Kamis Wage + Jumat Kliwon + Sabtu Legi.
Jumat Pahing + Sabtu Pon + Minggu Wage.
Sabtu Kliwon + Minggu Legi + Senin Pahing.

Untuk lebih jelasnya perhatikan keterangan sebagai berikut :

Jumlah Neptu Selasa (3) + Kliwon (8) = 11
Jumlah Neptu Rabu (7) + Legi (5) = 12
Jumlah Neptu Kamis (8) + Pahing (9) = 17
Jika NEPTU 3 hari berturut-turut tersebut dijumlahkan: 11 + 12 + 17 = 40

Jadi menurut para pinisepuh apabila ada amalan ilmu yang memakai ritual puasa 40 hari, dapat diringkas dengan cukup dijalankan 3 hari berturut-turut saja. Dengan syarat 3 hari tersebut memiliki jumlah Neptu 40.

Kamis, 19 Oktober 2023

SUNAN GUNUNG JATI

 𝗥𝗶𝘄𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗞𝗮𝗻𝗷𝗲𝗻𝗴 𝗦𝘆𝗮𝗿𝗶𝗳 𝗛𝗶𝗱𝗮𝘆𝗮𝘁𝘂𝗹𝗹𝗼𝗵

====== SUNAN GUNUNG JATI ======


Sunan Gunung Jati lahir di Makkah al-Mukarromah dengan nama Syarif Hidayatullah tahun 1448 Masehi. Ibunya bernama Nyai Rara Santang binti Prabu Siliwangi. Nyai Rara Santang pergi haji ke Makkah bersama kakaknya Pangeran Cakrabuana. Selama tinggal di Makkah ia nyantri di Syaikh Bayanullah, adik Syaikh Datuk Kahfi. Syaikh Datuk Kahfi adalah ulama asal Makkah yang menyebarkan Islam di Cirebon. Nyai Rara Santang dan Kakaknya berguru kepadanya, dan gurunya tersebut yang memerintahkannya untuk segera menunaikan ibadah haji ke Makkah bersama kakaknya, Pangeran Cakrabuana.


Di Makkah, Nyai Rara Santang menikah dengan Syarif Abdullah al-Hasyimi yang kemudian setelah menjadi sultan bergelar Sultan Maulana Mahmud al-Hasyimi. Ia menguasai wilayah Bani Ismail di Mesir dan Bani israil di Palestina. Nyai Rara Santang kemudian mendapat nama baru Syarifah Muda’im dan tinggal di Mesir bersama suami dan anaknya.


Ketika berumur dua puluh tahun, Syarif Hidayatullah pergi ke Makkah dan nyantri di ulama-ulama Makkah. Setelah itu ia pergi ke Nusantara. Ia mampir di Gujarat, lalu ke Kerajaan Samudra Pasai. Di Pasai ia nyantri di Sayyid Maulana Ishak. Dari Pasai ia berlayar menuju Banten. Dari Banten kemudian menuju Surabaya untuk nyantri di Sunan Ampel. Setelah beberapa lama barulah ia diperintahkan menemani pamannya di Cirebon untuk menyebarkan agama Islam. Ia membangun pesantren di daerah Gunung Jati. Kemudian ia dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.


Tiga paragrap di atas, adalah kisah Sunan Gunung Jati yang penulis ambil dari manuskrip Carita Purwaka Caruban Nagari dari mulai pupuh dua belas sampai tujuh belas. Manuskrip Carita Purawaka Caruban nagari adalah sebuah kitab yang ditulis oleh Pangeran Arya Cirebon pada tahun 1720. Dalam manuskrip tersebut pula tercantum salah satu versi silsilah Sunan Gunung Jati.


𝗦𝗜𝗟𝗦𝗜𝗟𝗔𝗛 𝗦𝗨𝗡𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗡𝗨𝗡𝗚 𝗝𝗔𝗧𝗜


Telah dilaksanakan pertemuan musyawarah keturunan Sunan Gunung Jati di Pesantren Benda Kerep Cirebon Hari Ahad tanggal 30 Juli 2023. Dalam musyawarah itu dibahas tentang silsilah Sunan Gunung Jati. Setelah diskusi dari mulai pagi sampai adzan magrib, ditetapkanlah bahwa Sunan Gunung Jati bersilsilah kepada Nabi Muhammad Saw melalui jalur Sayyid Musa al-Kadzim.


Pertemuan itu dihadiri oleh perwakilan keturunan Sunan Gunung Jati dari Banten dan Cirebon juga para pengurus dari Naqobah Ansab Awliya Tis’ah (NAAT). Selain penulis (H. Imaduddin Utsman al-Bantani), diantara yang hadir adalah: KH. Muayyad (Benda Kerep), KH. Abdurrahman (Benda Kerep), KH. Muhammad (Benda Kerep), KH. Ahmad Hassan (Benda Kerep), Tb. Mogy Nurfadil Satya (Banten), R. Noval Saefullah (Benda Kerep), Farihin (Pustakawan Kanoman), P. Fahri Mertasinga, Gus Alizein (Benda Kerep), KH. Ilzamuddin (Ketua NAAT), KH. Abdul Hannan (NAAT), K. Zabidi (NAAT), Gus Islah (NAAT), P. Panji Yasin (trah Hamengkubuwono), KRT. Fakih Wirahadiningrat (trah Hamengkubowono), H. Erwin (Forsil Walisongo), Tengku Muda Qori (Aceh), dan sebagainya. Peserta yang hadir diperkirakan lebih dari seratus orang.


Ada beberapa peserta yang hadir namun tidak disebutkan karena tidak mengikuti acara musyawarah sampai selesai, baik dari Banten maupun Cirebon, sehingga tidak ikut dalam pengambilan keputusan.


Dalam musyawarah di Benda Kerep tersebut, masing-masing peserta memperlihatkan manuskrip yang dimiliki untuk mendukung pendapatnya. Sebagian mereka menyatakan berdasarkan manuskrip yang dimiliki bahwa silsilah Sunan Gunung Jati adalah melalui Sayyid Musa al-Kadzim. Sebagian lagi, menyatakan versi Ba Alawi melalui Ali al-Uraidi. Setelah diadakan muqobalah antar manuskrip, maka dinyatakan bahwa silsilah Sunan Gunung Jati yang kuat adalah melalui Sayyid Musa al-Kadzim. Sedang versi melalui Ba Alawi adalah lemah. Keputusan itu dibacakan oleh KH. Ahmad Hassan dari Benda Kerep.


Dalam pertemuan itu, karena keterbatasan waktu, belum disusun kronik silsilah Sunan Gunung Jati berdasarkan manuskrip yang ditemukan. Maka penulis dan Tb. Mogy Nurfadil berinisiasi mengumpulkan kembali para keturunan Sunan Gunung Jati untuk menginvertarisir berbagai manuskrip yang waktu musyawarah itu dijadikan bahan referensi. Maka disepakatilah tempat di Bekasi, agar dari Banten dan Cirebon tidak terlalu jauh.


Pada hari Ahad 3 September 2023 diadakan pertemuan di rumah KH. Rohimuddin Nawawi dihadiri oleh: Penulis (Imaduddin Utsman al-Bantani), KH. Rohimuddin Nawawi (tuan rumah), KH. Ahmad Hasan (Benda Kerep), KH. Thobari Sazili (Banten), Tb. Mogy Nurfadil (Banten), Tb. Imamuddin (Banten), Tb. Imam Ibrahim (Banten), Tb. Soleh (Banten), Noval Saefullah (Benda Kerep), Tengku Muda Qori (Aceh), Lutfi Abdul Gani (Banten), Kang Gina (Banten), R. Suprio (Banten), Abdurrahman (Bekasi) dan lain-lain.


Dalam pertemuan itu, penulis memimpin inventarisir manuskrip per-manuskrip, masing-masing menunjukan manuskripnya. Dan terkumpul 7 manuskrip. Satu manuskrip dieliminir karena hanya menceritakan tentang Sunan Giri. Enam lainnya yang menyatakan bahwa Sunan Gunung Jati adalah keturunan Nabi Muhammad Saw melalui jalur Sayyid Musa al-Kadzim. Dari salah satu manuskrip itu ada 6 riwayat yang disebutkan. Jadi seluruh riwayat Musa al-Kadzim menjadi sebelas riwayat. Adapun ke-enam manuskrip itu adalah:


𝗠𝗮𝗻𝘂𝘀𝗸𝗿𝗶𝗽 𝗕𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗹𝗮𝗻 (𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟲𝟮𝟰 𝗠)

Manuskrip Bangkalan ini selesai ditulis hari kamis 12 Dzulhijjah 1033 H atau 24 September 1624. Didalamnya ada silsilah Sunan Bonang sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Sunan Bonang adalah putra dari Sunan Ampel. Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati sama-sama keturunan Syekh Jumadil Kubro. Dalam manuskrip Bangkalan ini disebutkan silsilah Sunan Bonang sampai Rasulullah melalui Sayidina Husain. Disebut pula nama-nama yang menunjukan bahwa silsilah ini melalui jalur Sayyid Musa al-kadzim seperti nama Ali al-Naqiy, al-Rido. Sama dengan kebiasaan manuskrip Nusantara lainnya, dalam menulis silsilah, manuskrip Bangkalan ini tidak lengkap secara berurut. Tetapi kadang kala di loncat-loncat seperti menyebut anak langsung ke kakek tanpa menyebut ayah.


𝗠𝗮𝗻𝘂𝘀𝗸𝗿𝗶𝗽 𝗧𝗮𝗽𝗮𝗹 𝗞𝘂𝗱𝗮 (𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟲𝟱𝟬 𝗠)

Manuskrip Tapal Kuda ini menjelaskan tentang silsilah isteri dari Syekh Ibrohim Asmoro melalui Syekh Jumadil Kubro. Dijelaskan bahwa silsilah Syekh Jumadil Kubro adalah dari Zainal Abidin, dari Ja’far Shadiq yang berputra Musa. Terus dilanjut secara tidak tertib silsilah sampai kepada Syaikh Jumadil Kubro dan isteri Syaikh Ibrahim Asmoro. Silsilah dalam manuskrip ini tidak tertib seperti yang seharusnya dikenal dalam kitab-kitab nasab mu’tabaroh. Yang demikian itu kebiasaan manuskrip-manuskrip nusantara dalam menulis silsilah. Kemungkinan besar adanya salah penempatan antara nama dan gelar; terbalik antara nama ayah dan anak-pun sering terjadi. Namun manuskrip ini telah tegas menyebut silsilah Jumadil Kubro kepada Sayyid Musa Al-Kadzim.


𝗠𝗮𝗻𝘂𝘀𝗸𝗿𝗶𝗽 𝗣𝗮𝗺𝗲𝗸𝗮𝘀𝗮𝗻 (𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟳𝟬𝟬 𝗠)

Manuskrip Pamekasan tahun 1700 Masehi ini nampaknya adalah salinan dari manuskrip Tapal Kuda tahun 1650 M. Menjelaskan tentang silsilah isteri dari Syekh Ibrohim Asmoro melalui Syekh Jumadil Kubro. Dijelaskan bahwa silsilah Syekh Jumadil Kubro adalah dari Zainal Abidin, dari Ja’far Shadiq yang berputra Musa.


𝗠𝗮𝗻𝘂𝘀𝗸𝗿𝗶𝗽 𝗦𝘆𝗲𝗸𝗵 𝗛𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗠𝘂𝗵𝘆𝗶 (𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟳𝟴𝟳 𝗠)

Manuskrip Syekh Hasan Muhyi tahun 1787 M ini menerangkan tentang silsilah Nabi Muhammad Saw dari Nabi Muhammad Saw melalui Sayyid Musa al-Kadzim. Dalam manuskrip itu terjadi distorsi ketika Kadzim disebut sebagai anak dari Musa, padahal al-Kadzim adalah merupakan gelar dari Musa. Juga terjadi distorsi ketika menyebut nama Muhammad Mubarak, seharusnya Muhammad al-Baqir. Namun dengan itu semua, manuskrip ini mtegas menyebut silsilah Sunan Gunung Jati. Walau nama Sunan Gunung Jati tidak disebut lengkap, hanya ditulis Kangjeng Sunan, tetapi dapat diketahui bahwa yang dimaksud itu adalah Sunan Gunung Jati Karena ada nama Ratu bani Israil dan raja Mesir. Dimana dapat dikonfirmasi dari sumber lain bahwa silsilah Sunan Gunung Jati ke atas ada dua nama tersebut.


𝗔𝘀𝗮𝗹-𝗨𝘀𝘂𝗹 𝗞𝗲𝘀𝘂𝗹𝘁𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗖𝗶𝗿𝗲𝗯𝗼𝗻 (𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟴𝟬𝟵 𝗠)

Dalam manuskrip ini disebutkan silsilah Sunan Gunung Jati melalui Musa al-Kadzim. Dalam manuskrip ini disebutkan nama Sunan Gunung Jati sebagai Kangjeng Sinuhun Carbon.


𝗧𝗶𝗻𝗷𝗮𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗿𝗶𝘁𝗶𝘀 𝗦𝗮𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗕𝗮𝗻𝘁𝗲𝗻 (𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟭𝟯 𝗠)

Tinjauan Kritis Sejarah Banten, adalah buku yang berasal dari desertasi Prof. Husein Djayadiningrat. Dalam buku ini disebutkan enam versi silsilah Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatulloh) yang diambil dari sumber-sumber tua diantaranya: Daftar Raja-raja Banten dari Priangan, Sejarah Banten Rante-Rante, Abdulkahar, Sejarah Para Wali (Jawa), Sejarah Para Wali (Sunda) dan Wawacan Sunan Gunung Jati. Dari enam versi itu lima menyebut Jumadil Kubro, dan satu tidak. Menariknya, yang tidak menyebut Jumadil Kubro justru menyebut nama Musa al-kadzim. Namun dari enam versi itu terkonfirmasi semuanya melalui jalur Musa al-Kadzim, karena dalam manuskrip tertua tahun 1624 yaitu manuskrip Bangkalan, dan manuskrip tapal kuda tahun 1650 yang telah disebutkan di atas, Jumadil Kubro adalah keturunan Musa al-kadzim.


Enam manuskrip di atas, sangat kuat menunjukan bahwa 𝗦𝗨𝗡𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗡𝗨𝗡𝗚 𝗝𝗔𝗧𝗜 𝗦𝗬𝗘𝗞𝗛 𝗦𝗬𝗔𝗥𝗜𝗙 𝗛𝗜𝗗𝗔𝗬𝗔𝗧𝗨𝗟𝗟𝗢𝗛 𝗺𝗲𝗿𝘂𝗽𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝘁𝘂𝗿𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗡𝗮𝗯𝗶 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱 𝗦𝗮𝘄 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗷𝗮𝗹𝘂𝗿 𝗠𝗨𝗦𝗔 𝗔𝗟-𝗞𝗔𝗗𝗭𝗜𝗠. 


Sedangkan jika silsilah Sunan Gunung Jati melalui jalur Ba Alawi kepada Nabi Muhammad Saw itu hanya ada dalam dua manuskrip, yang pertama terdapat dalam manuskrip Negarakretabhumi yang baru ditemukan pada tahun 1970. Manuskrip itu berangka penulisan tahun 1698 M, tetapi para ahli filologi meragukannya. Para ahli memperkirakan bahwa naskah ini palsu dan ditulis baru pada tahun 1960 M. Kertas manuskrip ini diolah sedemikian rupa sehingga nampak tua, namun ketika disentuh dengan jari berludah dan ditekan, warna ketuaannya luntur dan kertas ini ternyata ditulis di atas kertas manila, yaitu kertas yang hari ini diproduksi.


Manuskrip kedua yang mengkesankan bahwa silsilah Sunan Gunung Jati ke Ba Alawi adalah manuskrip Carita Purwaka Caruban Nagari. Naskah ini ditulis tahun 1720 M. Dalam naskah itu terdapat silsilah Sunan Gunung Jati melalui Ja’far al-Shadiq. Dari Ja’far al-Shadiq ke bawah ada yang aneh, yaitu ketika disebut anak Ja’far adalah Kasim al-Malik, atau ada yang membaca Kasim al-Manik. Nama ini jelas bukan Ali al-Uraidi bin Ja’far Shadiq sebagaimana silsilah Ba Alawi diakui keluarga Ba Alawi. Nama Kasim al-Malik, lebih dekat ke Musa al-Kadzim bin Ja’far al-Shadiq. Namun, di bawah nama Kasim al-Malik ada dua nama yang tidak masuk daftar lazimnya silsilah Musa al-Kadzim juga tidak masuk lazimnya silsilah Ba Alawi yaitu: Idris dan Al-Bakir. Selanjutnya ada nama Ahmad sebagai anak al-Bakir dan Ahmad mempunyai anak Baidillah. Dua nama ini memang mirip sebagaimana pengakuan Ba Alawi bahwa Ubaidillah anak Ahmad. Kemudian Baidillah mempunyai anak Muhammad. Ini tidak sama dengan silsilah Ba Alawi di mana Ubaidillah mempunyai anak bernama Alawi. Justru nama Alwi kemudian disebut setelah Muhammad.


Dari sini, Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari ini tidak bisa dijadikan dalil bahwa Sunan Gunung jati keturunan Ba Alawi, karena dalam naskah ini pula disebut nama Kasim al-Malik yang lebih mirip dengan nama Musa al-Kadzim daripada Ali al-Uraidi (maka Ambigu). Bahkan tokoh nasab kalangan Ba Alawi-pun, seperti Alidin Assegaf, menolak nasab Sunan Gunung Jati dan Wali Songo lainnya, dan menganggapnya sebagai nasab yang hanya ditulis sejarawan, bukan ahli nasab.


Dari semua penjelasan tersebut diatas, maka 𝗞𝗘𝗞𝗨𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗦𝗜𝗟𝗦𝗜𝗟𝗔𝗛 𝗦𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗚𝘂𝗻𝘂𝗻𝗴 𝗝𝗮𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝗷𝗮𝗹𝘂𝗿 𝗠𝘂𝘀𝗮 𝗮𝗹-𝗞𝗮𝗱𝘇𝗶𝗺 𝗗𝗜𝗣𝗘𝗥𝗞𝗨𝗔𝗧 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗔𝗦 𝗥𝗜𝗪𝗔𝗬𝗔𝗧 𝗦𝗜𝗟𝗦𝗜𝗟𝗔𝗛 𝗺𝘂𝗹𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟲𝟮𝟰-𝟭𝟵𝟭𝟯 𝗠. Sementara "𝘃𝗲𝗿𝘀𝗶 𝗕𝗮 𝗔𝗹𝗮𝘄𝗶 𝘁𝗲𝗿𝘁𝘂𝗹𝗶𝘀 hanya 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗱𝘂𝗮 𝗻𝗮𝘀𝗸𝗮𝗵, dan itu pun 𝘀𝘁𝗮𝘁𝘂𝘀𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗺𝗮𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵"; 𝗣𝗘𝗥𝗧𝗔𝗠𝗔, Pustaka Negarakretabhumi yang dianggap palsu oleh para pakar Sejarahwan Nasional; 𝗞𝗘𝗗𝗨𝗔, Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, naskah yang statusnya Ambigu (bermakna ganda) antara ke Musa al-Kadzim dan Ba Alawi.


Jika dihitung, maka perbandingannya adalah 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗔𝗦 𝗦𝗘𝗧𝗘𝗡𝗚𝗔𝗛 (11,5) riwayat melawan 𝗦𝗘𝗧𝗘𝗡𝗚𝗔𝗛 (0,5) riwayat saja. Dilihat dari sisi umur manuskrip, 𝗠𝗔𝗡𝗨𝗦𝗞𝗥𝗜𝗣 𝗩𝗘𝗥𝗦𝗜 𝗠𝗨𝗦𝗔 𝗔𝗟-𝗞𝗔𝗗𝗭𝗜𝗠 𝗟𝗘𝗕𝗜𝗛 𝗧𝗨𝗔 dari versi yang ambigu sekalipun. Manuskrip itu sekarang salinannya ada di penulis. Jika suatu hari dibutuhkan manuskrip itu dapat ditampilkan.


𝗦𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝘁𝘂𝗹𝗶𝘀𝗮𝗻 :

Mang IMAD Cempaka, 

Santri Abuya Muhtadi bin Abuya Dimyati Cidahu, Banten.

Memperkuat zakar

Khusus untuk laki-laki   Memperkuat zakar Sebagian ada dari para suami yang mengeluh mungkin karena masalah dengan kejantannya bukan berarti...