Lisandipo - Nahdlatul Ulama atau NU atau dikenal pula dengan nama Nahdiyin adalah salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.
NU berdiri pada 31 Januari 1926 M atau 16 Rajab 1344 H di
Surabaya, Jawa Timur. NU adalah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan,
keagamaan, ekonomi serta sosial. Kehadiran NU menjadi salah satu bentuk upaya
bahwa wawasan telah menjadi lambang dari tradisi keagamaan serta Ahlusunah wal
Jamaah yang memiliki peran besar di Indonesia.
Peran besar dalam perkembangan organisasi NU berkat Sembilan
Tokoh Ulama dan mendapatkan predikat sebagai pahlawan nasional.
Berikut adalah sembilan tokoh Nahdlatul Ulama :
1. KH. M. Hasyim Asy’ari
Tokoh pertama dari pendiri NU adalah KH. M Hasyim Asy’ari
atau dikenal pula dengan nama Mbah Hasyim, Beliau lahir di Kabupaten Jombang Jawa Timur pada 14 Februari tahun 1971 - wafat
pada tanggal 25 Juli 1947 M atau 7 Ramadan 1366 H . Mbah Hasyim adalah tokoh
utama sekaligus pendiri NU pada 31 Januari 1926.
2. KH. Abdul Wahid Hasyim
KH. Abdul Wahid Hasyim, lahir 1 Juni 1914 - wafat, 19 April 1953.
Beliau adalah seorang pahlawan Indonesia yang pernah menjabat sebagai seorang
menteri negara serta pernah menjabat sebagai menteri agama di orde lama. KH.
Abdul Wahid Hasyim adalah ayah dari Abduraahman Wahid dan anak dari KH. Hasyim
Asy’ari.
3. KH. Zainul Arifin
KH. Zainul Arifin Pohan, lahir di Barus, Tapanuli Tengah Sumatera
Utara, 2 September 1909 – wafat, 2 Maret
1963. KH. Zainul Arifin adalah sosok
yang dikenal sebagai pecinta kesenian serta turut aktif dalam kegiatan seni
musik melayu sekaligus sandiwara. Beliau adalah penyanyi serta pemain biola di
Stambul Bangsawan dan aktif pula memperdalam ilmu agama di masjid ketika beliau
tengah menjalani pelatihan bela diri pencak silat.
4. KH. Zainal Mustofa
KH. Zainal Mustofa, lahir di Bageur, Cimerah, Singaparna
Tasikmalaya 1 Januari 1899 – wafat Jakarta,
28 Maret 1944. Beliau adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia sekaligus
pendiri Nahdlatul Ulama bersama para tokoh lainnya.
5. KH. Idham Chalid
KH. Idham Chalid, lahir di Setui Kalimantan Selatan pada 27
Agustus 1922 – wafat tanggal 11 Juli 2010 M/28 Sya'ban 1431 H.
selain tercatat sebagai pendiri NU
Beliau pun juga pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada
Kabinet Djuanda dan Kabinet Ali Sastroamidjojo II. Selain itu beliau juga
pernah menjabat sebagai Ketua MPR serta Ketua DPR.
6. KH. Abdul Wahab Chasbullah
KH. Abdul Wahab Chasbullah atau akrab disapa Mbah Wahab,
lahir 31 Maret 1888 – wafat, 29 Desember 1971. Beliau adalah salah satu pendiri
Nahdlatul Ulama yang sebelumnya dikenal pula sebagai sosok pendiri kelompok
dari diskusi Tashwirul Afkar atau pergolakan pemikiran, selain itu Mbah Wahab
pun adalah sosok pendiri Madrasah Nahdlatul Wathan atau kebangkitan negeri
serta pendiri dari Nahdlatul Tujjar atau kebangkitan pedagang.
7. KH. As’ad Syamsul Arifin
KH. As’ad Syamsul Arifin, lahir Makkah pada tahun 1897
M/1315 H – wafat, 4 Agustus 1990 M di Situbondo, Jawa Timur.
Beliau adalah salah seorang kyai yang aktif dan berani ketika berperang melawan
para penjajah, Beliau adalah salah seorang pengasuh dari pesantren Salafiyah
Syafiiyah di Sukorejo, Banyuputih, Situbondo. Ketika menjadi pengasuh pesantren,
Beliau pun memimpin para pejuang Situbondo di Jember serta Bondowoso melawan
penjajah 10 November 1945.
8. KH. Syam’un
KH. Syam’un, lahir Banten tanggal 5 April 1894 – wafat 2 Maret 1949 M.
adalah pengurus NU di Serang, Banten. Beliau pernah menghadiri Muktamar NU yang
keempat di Semarang, Jateng pada tahun 1929, Muktamar NU yang kelima di
Pekalingan tahun 1930 serta Muktamar NU yang kesebelas di Banjarmasi pada tahun
1936.
Beliau adalah seorang alim dalam hal keilmuan yang menguasai tiga bahasa asing
serta pernah mengajar di Arab ketika masa muda.
9. KH. Masykur
KH. Masykur, Lahir di
Singosari 30 Desember 1315 H / 1902 M - wafat 18 Desember 1992 M Singosari.
Beliau adalah salah satu tokoh NU yang pernah menjadi anggota BPUPKI dan turut
terlibat dalam perumusan Pancasila. Beliau juga tercatat sebagai pendiri dari
Perta dan muncul sebagai pemimpin Barisan Sabilillah ketika terjadi pertempuran
pada 10 November 1945.
