Jumat, 22 Juli 2022

SYAIKH JUMADIL KUBRO

 


Makom Sayyid Djumadil Kubro

Lisandipo - Sayyid Jumadil Kubro adalah salah seorang Ulama yang memiliki karomah cukup besar.
Beliau adalah seorang yang mempunyai garis keturunan cukup dekat dari Rasulullah SAW. Hal ini dapat kita lihat dari silsilah berikut : Sayyid Jumadil Kubro bin Sayyid Zainul Khusen bin Sayyid Zainul Kubro bin Sayyid Zainul Alam bin Sayyid Zainal Zainal Abidin bin Sayyid Khusen bin Siti Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW.

Beliau lahir pada tahun 1349 M di kota Samarkhand, dekat kota Bukhoro, wilayah Negara Azarbaijan.
Di sana beliau dididik dan dibesarkan oleh ayahanda Sayyid Zainul Khusen, sampai akhirnya beliau menikah dan dikaruniai tiga putra. Ketiga putra beliau itu adalah :
 1. Sayyid Ibrahim (Ibrahim As-Samarkhandi)
 2. Maulana Iskha’
 3. Sunan Aspadi yang dikawin oleh Raja Rum.


Datang ke Chempa

Syeh Jumadil Kubro datang ke Chempa sekitar tahun 1399 M. Chempa adalah nama sebuah kerajaan yang berada di wilayah Negara Muangthai. Kedatangan beliau ke sana bertujuan untuk berdakwah sambil berdagang selain juga bersilaturahmi menemui putra dan cucu beliau. Di Chempa (Muangthai) sebelumnya telah ada kegiatan dakwah Islam yang dilakukan sejak tahun 1395 M oleh Maulana Ibrahim (putra Sayyid Jumadil Kubro), sehingga tugas Sayyid Jumadil Kubro hanya mengembangkan dan meningkatkan pemahaman ajaran Islam, termasuk Raja Chempa yang bernama Kuntoro. Sayyid Ibrahim menikah dengan Dewi Candrawulan putri Raja Kuntoro.
Dari perkawinan itu, beliau dikaruniai dua putra yaitu :
1. Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
2. Sayyid Ali Murtadho/Raja Pandito (beliau bertempat tinggal di kerajaan Chempa bersama Raja Kuntoro).


Datang Pertama Ke Pulau Jawa

Setelah tugas-tugas Sayyid Jumadil Kubro di Chempa selesai maka beliau meneruskan perjalanannya berdagang dan berdakwah ke pulau Jawa, beliau datang abad ke 14 atau tepatnya pada tahun 1399 M. Kegiatan dakwah beliau banyak dilakukan dilingkungan kerajaan karena barang-barang dagangan beliau lebih banyak diminati dan dibutuhkan oleh keluarga kerajaan Majapahit atau kaum bangsawan yakni berupa emas, intan zamrud, dll. Dalam perjalanan dakwah dan dagangnya ke pulau Jawa, Sayyid Jumadil Kubro merasakan banyak kesulitan. Hal ini disebabkan karena masih kuatnya pengaruh ajaran agama Hindu dan Budha yang didukung besarnya pengaruh kerajaan saat itu. Kepercayaan Animisme (pemuja roh-roh nenek moyang) serta kepercayaan Dinamisme (pemuja benda-benda yang dianggap keramat) merupakan hambatan tersendiri di dalam mengembangkan ajaran Islam, sehingga masyarakat pada masa itu sangat sulit untuk dimasuki ajaran Islam. Terlebih lagi dengan maraknya pemujaan-pemujaan pada roh nenek moyang dan benda-benda yang dianggap punya keramat atau kekuatan gaib, ini mendatangkan dukungan kekuatan Ïstidraj”dari jin, setan, genderuwo sehingga kebanyakan wilayah di pulau Jawa menjadi daerah yang angker. Beliau hanya sempat melakukan kegiatan dakwah dan perdagangan dari lingkungan kerajaan secara sembunyi-sembunyi. Tentunya hasil yang dicapai jelas sangat tidak mengembirakan. Kegiatan dakwah secara terang-terangan tidak memungkinkan beliau lakukan, karena hal tersebut tentu akan mengundang kemurkaan kerajaan Majapahit serta kemurkaan kekuatan-kekuatan gaib dari bangsa jin, setan dan sejenisnya. Kesulitan Sayyid Jumadil Kubro agak berkurang setelah beliau bertemu dengan seorang Tumenggung Mojopahit yang bernama Tumenggung Satim Singomoyo. Karena hanya beliaulah seorang pejabat kerajaan yang bisa diajak musyawarah tentang kesulitannya di dalam berdakwah untuk mengembangkan ajaran Islam. Kala itu beliau sudah memeluk agama Islam walaupun hal ini tidak berani dilakukan secara terang-terangan. Dengan keberadaan Tumenggung Satim Singomoyo, akhirnya sedikit demi sedikit masyarakat Mojopahit memeluk Islam, termasuk yang berada di lingkungan kerajaan. Walaupun hal ini masih dinilai kurang memuaskan. Setelah beliau wafat, beliau dimakamkan disebuah tempat yang sekarang menjadi satu dengan makam Sayyid Jumadil Kubro.

Melawan Penguasa dan Kekuatan Gaib

Pada masa itu, Majapahit telah mencapai puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Raja hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Pengaruhnya sangatlah besar dan luas hingga hampir mencakup seluruh wilayah Nusantara sebagaimana tekad Patih Gajah Mada yang sangat terkenal dengan sumpahnya “Amukti Palapa”. Kemasyhuran dan kejayaan kerajaan Majapahit ini dikenal hingga ke luar negeri, seperti halnya kerajaan Tiongkok. Dalam situasi yang demikian, Sayyid Jumadil Kubro akhirnya menyimpulkan bahwa untuk mengembangkan Islam dan melakukan dakwah pada masyarakat Jawa harus digunakan strategi atau cara yang dapat mempengaruhi penguasa kerajaan serta mengurangi dan mengalahkan pengaruh kekuatan gaib yang membuat hampir seluruh wilayah pulau Jawa menjadi angker.

Menyusun Kekuatan dan Pembentukan Wali Songo.

Kuatnya pengaruh kerajaan Hindu Majapahit maupun pengaruh keangkeran daerah-daerah di pulau Jawa tersebut, dirasakan Sayyid Jumadil Kubro sebagai sebuah tantangan dakwah yang harus dihadapi, namun untuk menghadapi tantangan penyiaran agama Islam yang sangat kuat tersebut, beliau merasakan kurang kuat jika dilakukan hanya dengan seorang diri. Oleh karenanya, pada sekitar 1404 M Sayyid Jumadil Kubro meninggalkan pulau Jawa untuk kembali ke kampung halamannya di Samarkhan dengan maksud melaporkan kepada kekhalifahan Islam Turki Sultan Muhammad I sekaligus beliau mengusulkan untuk segera menyusun kekuatan dakwah yang akan ditugaskan untuk menyiarkan agama Islam ke Pulau Jawa.

Dalam pertemuannya dengan Sultan Muhammad I (Raja Turki) saat itu, Sayyid Jumadil Kubro mengusulkan agar Sultan Muhammad I mengundang beberapa Ulama dari wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara yang memiliki karomah besar untuk diajak musyawarah membahas kegiatan dakwah Islam dan pengembangannya di Pulau Jawa. Setelah mendengar dan memperhatikan cerita pengalaman dan temuan Sayyid Jumadil Kubro tentang situasi dan keadaan agama Islam di daerah Pulau Jawa, Akhirnya disepakati bahwa untuk melakukan kegiatan dakwah ke Pulau Jawa ditugaskan 9 (Sembilan) orang Ulama (Auliya’) dengan berbagai keahliannya masing-masing. Sembilan orang itu akan dibagi jadi tiga bagian, Jawa Timur tiga orang Ulama, Jawa Tengah tiga orang Ulama, Jawa Barat tiga orang Ulama, dengan masa bhakti satu abad (seratus tahun) apabila terjadi ada yang wafat atau pindah dari Pulau Jawa harus mengadakan rapat untuk mencari penggantinya. Kesembilan Ulama tersebut selanjutnya dilembagakan dan ditetapkan dengan sebutan WALI SONGO yang untuk pertama kalinya beranggotakan Sembilan Ulama, beliau-beliau adalah :

1. Maulana Malik Ibrahim, ahli Tata Negara dan pengobatan. Berdakwah di Jawa Timur.
2. Maulana Ishak dari Samarkhan beliau putra dari Sayyid Jumadil Kubro, ahli pengobatan. Berdakwah di Jawa Timur. Setelah tugas di Blambangan Banyuwangi beliau pindah ke Pasai. Menurut KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) beliau wafat dan dimakamkan di Jombang, di Jl. Garuda Dusun Tambak Beras Desa Tambak Rejo Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang (Jawa Timur).
3. Maulana Jumadil Kubro dari Samarkhan Azarbaijan, ahli militer. Berdakwah di lingkungan kerajaan Majapahit, wafat di Troloyo Mojokerto tahun 1465 M.
4. Maulana Ahmad al Maghroby (Sunan Geseng) dari Maroko Afrika Utara. Beliau terkenal sebagai orang yang kuat dan sakti berdakwah di Jawa tengah, wafat di daerah Majapahit dan dimakamkan di Pesantrennya Jati Anom Klaten tahun 1465 M.
5. Maulana Malik Isroil dari Turki ahli mengatur Negara. Berdakwah di Jawa Tengah, wafat di daerah Gunung Santri Cilegon Jawa Barat tahun 1435 M.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar dari Persia (Iran) ahli pengobatan dan pertanian. Berdakwah di Jawa tengah, wafat di daerah Gunung Santri Cilegon Jawa Barat tahun 1435 M.
7. Maulana Hasanuddin dari Palestina, berdakwah di Jawa Barat dan wafat tahun 1462 M, dimakamkan di samping Masjid Banten Lama.
8. Maulana Alayuddin dari Palestina, berdakwah di Jawa Barat, wafat tahun 1462 M, dimakamkan di samping Masjid Banten Lama.
9. Syekh Subakir dari Persia (Iran) ahli supranatural (tumbal tanah angker, mengusir jin setan), tugasnya di Pulau Jawa, beliau kembali ke negerinya Persia tahun 1462 M setelah selesai tugasnya.

Dari Sembilan Ulama (Wali Songo) generasi pertama ini yang ditunjuk sebagai pemimpin atau Mufti adalah Maulana Malik Ibrahim yang bertempat tinggal di Gresik. Sembilan Ulama Wali Songo diberangkatkan oleh Sultan Muhammad I dari Turki ke Pulau Jawa pada tahun 1404 M dengan mengendarai kapal dagang dan membawa barang dagangan yang diperkirakan laku diperdagangkan di Pulau Jawa.

Datang Di Pulau Jawa Yang Kedua

Untuk kedua kalinya Sayyid Jumadil Kubro datang di pulau Jawa bersama rombongan 9 Ulama yang terorganisir dalam lembaga dakwah WALI SONGO. Kedatangan Wali Songo ini membuat semakin geram dan galaknya kekuatan gaib yang selama ini menguasai Pulau Jawa. Semakin mengamuknya keangkeran jin, setan, dan makhluk sejenisnya disebabkan karena kekhawatiran akan hilangnya pengaruh dan berkurangnya pemuja-pemuja mereka, sebab kehadiran dan kegiatan dakwah para ulama wali songo yang akan berlawanan dengan apa yang selama ini dilakukan oleh masyarakat yang ada di Pulau Jawa yakni memuja jin, setan dan lain sebagainya.

Memasang Tumbal Di Pulau Jawa

Melihat situasi keangkeran pulau Jawa yang semakin menjadi-jadi, Syeikh Maulana Malik Ibrahim selaku Mufti Wali Songo yang pertama ini memberikan tugas kepada Syeikh Subakir salah satu anggota Wali Songo yang ahli dalam bidang metafisika (ahli mengusir jin, setan, genderuwo dan sejenisnya) untuk segera melakukan tugasnya memasang tumbal pada daerah-daerah angker di Pulau Jawa sehingga dapat melumpuhkan kekuatan-kekuatan gaib yang selama ini menguasai pulau Jawa. Setelah Syeikh Subakir memasang tumbal di puncak gunung tidar Magelang, selanjutnya Sayyid Jumadil Kubro dan semua wali membagi tugas dakwah. Sayyid Jumadil Kubro memilih wilayah dakwah di lingkungan kerajaan Majapahit dengan alasan beliau sudah memiliki jalur masuk lingkungan kerajaan Majapahit karena istri Prabu Kertawijaya (Brawijaya I) yakni Dewi dwarawati/Darawati Murdaningrum putri Raja Chempa adalah adik kandung dari menantu beliau Dewi Chandrawulan(istri Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi).

Perang Saudara Kerajaan Majapahit

Setelah wafatnya Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk sekitar abad 14 mulai surut pamor dan kejayaan Majapahit. Perang saudara antara Wikramawardhana dengan Wirabumi mengakibatkan melemahnya kendali pusat pemerintahan kerajaan Majapahit. Penduduk Majapahit terutama dari Kasta Sudra dan Waisya (golongan masyarakat buruh dan petani) yang selama ini menempati derajat rendah dan hina mulai mengalami pembangkangan dan pemberontakan. Mereka merasa tidak dapat menerima adanya perbedaan derajat manusia. Kondisi yang demikian ini sangat menguntungkan bagi penyebaran agama Islam yang mengajarkan persamaan harkat, martabat dan derajat manusia. Ajaran ini menjadi berkembang, utamanya dikalangan masyarakat petani, nelayan, buruh dan pegawai kerajaan. Perlahan tapi pasti, masyarakat kelas bawah mulai berbondong-bondong memeluk agama Islam, mengikuti ajaran Wali Songo yang dengan bijak dan santun menyampaikan misi dalam dakwahnya.

Mohon Pertolongan untuk Mengatasi Kekacauan.

Keadaan di sekitar pusat kerajaan Majapahit semakin lama semakin memprihatinkan, baik akibat terjadinya perang saudara maupun akibat sering terjadinya perselisihan diantara pegawai kerajaan yang sudah memeluk Islam dan pegawai kerajaan yang masih beragama Hindu. Situasi ini ternyata membawa manfaat yang cukup besar bagi Sayyid Jumadil Kubro, penampilan yang sejuk tutur bicara yang santun ketika beliau beranjangsana ke keluarga kerajaan menjumpai Dewi Dwarawati (Darawati Murdaningrum) ternyata dapat membawa ketentraman di hati Prabu Kertawijaya. Hingga suatu saat, Dewi Dwarawati menyampaikan usul pada Prabu Majapahit atas saran pandangan Sayyid Jumadil Kubro supaya Prabu Majapahit mengundang seorang tokoh yang dianggap mampu menentramkan situasi kerajaan yang sedang dilanda kekacauan itu.

Saat kondisi kerajaan seperti itu maka Prabu Kertawijaya mengundang semua adipati dan para Tumenggung diajak rapat bersama yang intinya mencari orang (Ulama) yang bisa menenteramkan Majapahit. Keputusan rapat menyetujui Sayyid Ali Rahmatullah dari Chempa Muangthai (Putera Sayyid Ibrahim Samarkhani) akan diminta untuk menentramkan Majapahit. Maka para adipati yang telah ditunjuk untuk berangkat ke Chempa dan diantarkan oleh Maulana Iskhak bersama-sama berangkat menuju Chempa menemui Sayyid Ali Rahmatullah.

Rombongan Majapahit Tiba di Chempa

Setelah rombongan adipati Majapahit dan Maulana Iskhak tiba di Chempa disambut baik oleh Raja Chempa dan mengadakan musyawarah di ruangtamu kerajaan juga ditemui oleh Sayyid Ibrahim Samarkhandi dan anaknya Sayyid Ali Rahmatullah. Setelah hasil musyawarah ada kesepakatan maka berangkatlah semua adipati Majapahit, Sayyid Maulana Iskhak besertaSayyid Ali Rahmatullah yangdiantar oleh ayahnya Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi dan saudaranya Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito), bersama-sama berangkat naik kapal menuju pulau Jawa. Kapal yang ditumpangi rombongan tersebut berlabuh di Gresik. Setibanya di Gresik, tiba-tiba Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi sakit dan dibawa ke Tuban, yang akhirnya wafat dan dimakamkan di Tuban (Kecamatan Palang). Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) meneruskan perjalanan dakwah keliling ke Nusa tenggara, Madura sampai ke Bima. Beliau disana mendapat julukan Panditho Bima. Setelah itu beliau kembali ke Gresik dan akhirnya wafat di Gresik. Beliau di Gresik mendapat julukan Raden Santri. Beliau mempunyai anak bernama Haji Ustman (Sunan Ngudung) yang menikah dengan Siti Syariáh binti Sunan Ampel mempunyai seorang anak bernama Amir Hasan.
Dan Haji Ustman (Sunan Ngudung) juga menikah dengan dewi Sarah binti Tumenggung Wilwatikta Tuban mempunyai 2 anak :
1. Dewi Sujana yang dinikahkan dengan Umar Said (Sunan Muria)
2. Amir Haji (Sunan Kudus) menikah dengan Dewi Rukhila binti Sunan Bonang.


Adapun Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanannya ke Mojopahit. Beliau beserta rombongan utusan raja Mojopahit dari Gresik naik kapal mendarat di Canggukemudian menuju Kerajaan Mojopahit. Adapun dalam silsilah Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) adalah anak Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi sedangkan Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi anak Sayyid Jumadil Kubro. Sayyid Ali Rahmatullah dan Sayyid Ali Murtadho adalah cucu Sayyid Jumadil Kubro. Sedangkan Maulana Iskhak adalah anak kandung Sayyid Jumadil Kubro.

Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Majapahit

Setelah tiba di Majapahit Sayyid Ali Rahmatullah disambut baik oleh Prabu Brawijaya I (Prabu Ketawijaya) dan permaisurinya, Dewi Dwarawati (bibinya). Sedangkan Maulana Iskhak pergi ke Gresik.

Setelah mengadakan musyawarah dengan keluarga kerajaan, Sayyid Ali Rahmatullah mohon supaya semua Adipati dan Tumenggung dikumpulkan di ruang sidang kerajaan. Dengan semangat semua Adipati dan Tumenggung bahkan para prajurit berkumpul di ruang sidang Kerajaan Majapahit bahkan tidak ketinggalan Ki Ageng Supo Bungkul juga ikut hadir. Setelah Sayyid Ali Rahmatullah memberi nasehat tentang hokum syariát Islam, Tauhid dan Akhlaq semua sama takjub karena belum pernah mendengar. Apalagi pada waktu menerangkan tentang larangan-larangan hokum Syariát Islam dan akibat-akibat larangan agama Islam, banyak orang yang merasa ketakutan karena kenyataannya memang begitu. Yang hingga sekarang sering dikenal : MOH – LIMO (tidak mau dengan lima larangan), selama Sayyid Ali Rahmatullah berada di Kerajaan Majapahit, Sayyid Jumadil Kubro sering datang ke kerajaan perlu menawarkan barang dagangannya yang berupa emas, berlian, dan lain-lain pada warga kerajaan, sambil memberi saran pada Sayyid Ali Rahmatullah yang masih cucunya itu.

Berdakwah di Lingkungan Kerajaan

Sayyid Ali Rahmatullah berdakwah dengan cara terbuka memberi nasehat dengan lunak dan sabar. Mengangkat martabat umat yang miskin dan janda-janda apalagi yatim piatu. Dan pada waktu Sayyid Ali Rahmatullah membuat santunan pada janda-janda dan yatim piatu membuat kerajaan jadi tenteram. Raja Kertawijaya semakin kagum atas pemberian santunan yang dilakukan Sayyid Ali Rahmatullah karena hal itu belum pernah dilakukan di kerajaan. Sayyid Ali Rahmatullah diambil menantu oleh Prabu Ariyotejo Tuban, dijodohkan dengan anaknya yang bernama Dewi Candrawati dan setelah menikah Sayyid Ali Rahmatullah memberi nama baru pada istrinya dengan nama : Nyai Ageng Manila, selain itu Sayyid Ali Rahmatullah juga diberi hadiah wilayah di Surabaya dan bangunan rumah yang tepatnya di Ampel Denta.

Sayyid Ali Rahmatullah Datang ke Ampel

Keberangkatannya dari kerajaan Majapahit menuju Ampel denta Surabaya, Sayyid Ali Rahmatullah diantarkan para penduduk yang sudah masuk Islam dan Ki Ageng Sopa Bungkul juga ikut mengantarkan sambil berdakwah di Krian, Wonokromo dan Kembang Kuning Surabaya. Pada tahun 1421 M Wali Songo mengadakan rapat di Ampel denta untuk mengangkat Sunan Ampel masuk anggota Wali Songo sebagai pengganti Maulana Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 M. Rapat Wali songo yang pertama kali diselenggarakan ini, banyak dihadiri Adipati Majapahit. Bahkan Prabu Kertawijaya juga ikut hadir dan mendukung Sunan Ampel sebagai Mufti, karena beliau mengenang jasa Sunan Ampel di kerajaan Majapahit. Terbentuklah anggota Wali Songo Periode II. Pelaksanaan rapat tersebut diselenggarakan pada tanggal 17 Ramadhan, maka setiap bulan Ramadhan di masjid dan makam Sunan Ampel penuh sesak dikunjungi ribuan peziarah bertujuan untuk memperingati pengangkatan Sunan ampel menjadi Mufti Wali songo.

Sayyid Jumadil Kubra Wafat

Sayyid Jumadil Kubro memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan agama Islam. Bahkan usianya yang sudah lebih dari seratus tahun belum pernah surut perjuangannya. Dalam usia yang sangat tua itu Sayyid Jumadil Kubro punya niat ingin mati syahid. Dengan niatnya yang baik itu Sayyid Jumadil Kubro bertapa empat puluh hari memohon kepada Allah semoga akhir hayatnya dijadikan orang yang mati syahid.

Pada tahun 1465 M Wali Songo sedang membangun Masjid Demak, sedangkan kerajaan Majapahit mengadakan rapat mendadak. Semua Adipati hadir, kecuali Raden Patah, atas usulan Adipati yang beragama Hindu, Raden Patah harus dipanggil dan diadili karena tidak mentaati peraturan kerajaan Majapahit. Dengan semangat para Adipati yang beragama Hindu berangkat ke Demak bertujuan memanggil paksa Raden Patah. Namun setelah di Demak, para Adipati tersebut ditemui oleh Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi. Setelah para Adipati menyampaikan tujuannya memanggil paksa Raden Patah, dengan nada keras Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi mengusir para Adipati yang punya niat buruk itu. Sehingga terjadilah pertempuran yang akhirnya para Adipati mundur kembali ke Mojopahit. Setelah itu, Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi beserta para santri berangkat ke Majapahit, tujuannya memerangi para Adipati yang masih beragama Hindu itu. Setibanya di Majapahit terjadilah peperangan yang sangat dahsyat sehingga banyak Adipati yang gugur. Namun sudah menjadi niat Sayyid Jumadil Kubro ingin mati syahid, maka saat itu juga Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi juga gugur di medan peperangan. Dan tempat terjadinya peperangan di desa Troloyo pada tanggal 15 Muharram 857 H. kedua orang tersebut menjadi anggota Wali Songo selama 61 tahun (enam puluh satu) tahun. Adapun Sayyid Jumadil Kubro dimakamkan di desa Troloyo, dan beliau wafat berusia 116 tahun. Sedangkan Maulana Maghribi oleh para santrinya dimakamkan di Jatianom Klaten Jawa Tengah (di pesantrennya). Setelah peperangan sudah reda, Wali Songo mengadakan rapat yang ketiga kalinya bertempat di Ampel perlu mengangkat anggota baru untuk menggantikan anggota yang sudah wafat.

Sirna Hilang Kertaning Bumi

Wafatnya Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi (1465 M) bukanlah suatu kemenangan bagi kerajaan Majapahit, malah membuat malapetaka. Apakah yang terjadi? Prabu Kertabumi semakin beringas dan menuduh beberapa Adipati dengan tuduhan munafik, karena banyaknya Adipati dan Tumenggung yang gugur. Atas tuduhan sang Raja tersebut banyak Adipati yang menentang tuduhannya, sehingga terjadi perselisihan dan sebagian ada yang memisahkan diri dari wilayah kerajaan Majapahit. Setelah itu sang raja bersama-sama Adipati yang masih mengikuti kerajaan Majapahit mengadakan rapat mendadak, karena ada kabar sebagian Adipati ada yang mau menyerang kerajaan Majapahit yang di dukung oleh Kerajaan Kediri. Dengan adanya kabar tersebut Prabu Kertabumi sangat kebingungan. Di saat itulah Tumenggung Satim Singomoyo mulai berani mengajukan seruan pada Kertabumi yang intinya Prabu Kertabumi diajak masuk agama Islam dan kerajaan disatukan dengan Wali Songo agar kerajaan lebih kuat. Namun usulannya ditolak oleh Prabu Kertabumi. Pada tahun 1478 M pasukan perang dari Keling Kediri yang dipimpin Girindra Wardana yang jumlahnya ribuan dengan mendadak langsung melingkari kerajaan Majapahit. Sedangkan Prabu Girindra Wardana langsung masuk menemui Prabu Kertabumi. Prabu Kertabumi tidak mengadakan perlawanan tapi langsung membuat surat penyerahan kerajaan Majapahit kepada Girindra Wardana. Setelah Prabu Kertabumi membuat surat penyerahan, beliau pergi ke lereng Gunung Lawu.

Gugurnya Sunan Ngudung

Pada tahun 1481 M Girindra Wardana menyerang Sunan Giri, karena khawatir akan berdirinya kerajaan Islam di Jawa Timur. Namun usahanya gagal karena mengalami kekalahan, meskipun mengalami kekalahan, usahanya pantang mundur, beliau masih punya rencana ingin menyerang Wali Songo dengan cara sangat licik yang intinya orang Islam Majapahit bisa berperang melawan Wali Songo. Raden Patah membuat keputusan untuk mencabut surat penyerahan kerajaan Majapahit dari Girindra Wardana yang ditandatangani Prabu Kertabumi. Dikirimlah utusan ke Majapahit, namun oleh Prabu Girindra Wardana ditolak dengan cara kasar hingga menyulut peperangan. Karena Raden Patah merasa punya hak waris kerajaan Majapahit, maka Raden Patah menugaskan Sunan Ngudung sebagai senopati Demak untuk memimpin perang melawan Majapahit. Terjadilah peperangan yang sangat hebat. Perang antara Demak dan Majapahit berlangsung hingga hampir dua tahun. Di akhir peperangan itulah Sunan Ngudung gugur melawan pasukan perang Majapahit. Pasukan Demak hampir mengalami kekalahan. Sunan Kalijaga bersiasat, dengan cara sembunyi-sembunyi menemui pemimpin perang Majapahit, yang ternyata pemimpin perang adalah Raden Husen adik kandung Raden Patah. Setelah mengadakan pertemuan barulah Raden Husen mengerti kalau orang Islam Majapahit diadu oleh Girindra Wardana untuk melawan Wali Songo. Atas hasil musyawarah Raden Husen dengan Sunan kalijaga membawa hasil yang sangat memuaskan. Pasukan perang yang dipimpin Raden Husen bergabung dengan pasukan Demak berbalik arah sama-sama menyerang pasukan Majapahit. Raja Girindra Wardana merasa terdesak dan melarikan diri. Keterangan sejarah babad tanah Jawa, setelah Raden Patah berhasil merebut kerajaan Majapahit dari kekuasaan Prabu Girindra Wardana, Raden Patah beserta Sunan Kalijaga langsung ke Sunan Giri perlu melaporkan atas kemenangannya. Setelah kedua anggota Wali Songo itu tiba menghadap Sunan Giri, selain melaporkan keberhasilannya merebut kerajaan Majapahit juga mengadakan musyawarah tentang kelanjutan kerajaan Majapahit. Sunan Kalijaga membuat usulan : Sebaiknya bangunan Istana Kerajaan dibongkar dan diboyong ke Demak sekaligus pusaka-pusaka yang ada sebagai bukti kalau raden Patah adalah hak waris kerajaan Majapahit. Sunan Giri sebagai mufti Wali Songo menerima usulan Sunan Kalijaga. Maka kemudian diputuskan "Bangunan istana dan semua pusaka kerajaan Majapahit di boyong ke Demak”.

KYAI SAHAL DAN DUIT NU

 


Lisandipo- Suatu hari PBNU mengadakan sebuah acara di Surabaya, mengundang duta-duta besar negara sahabat, dan pelayanan-nya pun VVIP.

Lebih-lebih KH. Sahal Mahfudz, sebagai Ra'is Aam PBNU, tentu bisa mendapatkan pelayanan yg lebih. Di Kota Pahlawan ini, Mbah Sahal -sapaan mulianya, selama dua hari bermalam di sebuah hotel berbintang. Tapi, ketika panitia acara ingin membayar kamar hotel yg ditempati Kyai Sahal, beliau bilang:
 "Ndak usah, aku jek duwe duet dewe," ( Tidak usah, saya masih punya uang sendiri), sambil berjalan ke kasir . Panitia pun masih merayu Kyai Sahal agar mau dibayari oleh panitia.
Mbah Kyai Sahal tetap bilang "Ndak usah" sambil beliau mengeluarkan uang dari tasnya .

Setelah itu panitia masih berkata:
"Mana bon-nya yai, biar kami ganti."

Mbah Sahal dawuh: "Ndak usah, aku moh nganggo duite NU. Aku gowo duetku dewe ae. Nek NU iku urip-urip NU, ojo sepisan-pisan golek urip nok NU." (Tidak usah, saya tidak mau menggunakan duitnya NU. Saya pakai uang saya sendiri saja. Di NU itu harus menghidupi NU, jangan sekali-kali mencari hidup di NU) .
Sifat Mbah Kyai Sahal patut kita contoh. Beliau benar-benar tulus, ikhlas mengabdi untuk NU. Padahal sekelas Ra'is Aam seperti Mbah Sahal tentu mudah sekali bagi beliau untuk mendapat fasilitas dari NU. Allah Kariim...

Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT . Al-Fatihah..

KH.Hasan Gipo Ketua Tanfidziyah NU Pertama

 


Lisandipo-
Hasan Gipo atau Hasan Basri lahir di Surabaya pada tahun 1869 di  Kampung Sawahan (sekarang Jl. Kalimas Udik). Ia lahir dari lingkungan keluarga santri kaya yang bernama Dinasti Gipo, bertempat tinggal di kawasan perdagangan elite di Ngampel yang bersebelahan dengan pusat perdagangan di Pabean, sebuah pelabuhan sungai yang berada di tengah kota Surabaya yang berdempetan dengan Jembatan Merah. Dinasti Gipo yang berdarah Arab, merupakan saudagar kaya di daerah komplek Ampel, Surabaya. Hingga kampung tempat Gipo kemudian dikenal dengan Gang Gipo dan keluarga ini mempunyai makam kelaurga yang dinamai makam keluarga, makam Gipo di kompleks Masjid Ampel. Gang Gipo sendiri kini berubah menjadi Jalan Kalimas Udik.

Dinasti Gipo ini didirikan oleh Abdul Latif Sagipoddin (Tsaqifuddin) yang disingkat dengan Gipo. Nama Gipo sebenarnya merupakan singkatan Sagipoddin dari bahasa Arab Saqifuddin, tsaqaf (pelindung) dan al-dien (agama). Jika dirunut silsilahnya, Hasan Gipo masih punya hubungan keluarga dengan KH. Mas Mansyur, salah seorang pendiri Muhammadiyah, yang juga adalah keturunan Abdul Latief Gipo.
Dinasti Gipo ini adalah masih santri bahkan kerabat dari Sunan Ampel, karena itu keislamannya sangat mendalam. Sebagai pemuda yang hidup dikawasan bisnis yang berkembang sejak zaman Majapahit itu, Abdul Latif Sagipoddin memiliki etos kewiraswastaan yang tinggi.
Prosesi bisnis Sagipodin ditekuni mulai dari pedagang beras eceran, dengan cara itu ia memiliki kepandaian tersendiri dalam menaksir kualitas beras. Keahliannya itu semakin hari semakin tenar, sehingga para pedagang dan terutama importir beras banyak yang menggunakan jasanya sebagai konsultan kualitas beras. Dengan profesinya itu ia mulai mendapat banyak rekanan bisnis dengan modal keahlian bukan uang.
Ketika usinya sudah menjelang dewasa, ia diambil menantu oleh seorang saudagar Cina. Engan modal besar dari mertuanya itulah ia bisa melakukan impor beras sendiri dari Siam, sehingga keuntungannya semakin besar dan semakin kaya. Perjalannya ke luar negeri semakin memperbesar rekanan bisnisnya, beberapa pengusaha dari Pakistan, Arab Persia dan India digandeng, sehingga semakin memperbesar volume ekspornya.
Selain itu juga mulai melakukan diversifikasi usaha dengan mengimpor tekstil dari India. Karena itu ia menjadi pengusaha besar di kawasan perdagaangan Pabean, sehingga tanah-tanah di situ dikuasai.
Tetapi ketika perkembangan bisnisnya terlalu ekspansif, maka akhirnya ia kebobolan juga, karena beras yang diimpor dari Siam itu dipalsu oleh rekanan bisnisnya dari Pakistan ditukar dengan wijen, yang waktu itu harga wijin sangat rendah dibanding harga beras. Selain itu wijen tidak dibutuhkan dlam skala besar. Dengan penipuan itu bisnisnya sempat limbung selama beberapa bulan. Modal mandek, uang tidak bisa diputar karena tertimbun menjadi wijen yang tidak laku dijual, paling laku satu dua kilo untuk penyedap makanan. Sebagai anak muda yang baru bangkit, sangat terpukul dengan penipuan itu.
Namun mertuanya yang pengusaha kawakan itu tidak menyalahkan malah menyabarkan, karena kerugian merupakan risiko setiap bisnis. Ini sebuah cobaan dari Allah yang harsu diterima. Dengan sabar, syukur dan tawakkal serta usaha keras Insyaallah suatu ketika keuntungan akan diperoleh kembali, demikian nasehatnya. Sebagai seorang santri yang taat ia hanya bisa pasrah dan berdoa serta tetap berusaha.
Di tengah kelesuan bisnisnya itu tiba-tiba pemerintah Belanda membutuhkan wijen dalam jumlah besar. Tentu saja tidak ada pengusaha yang memiliki dagangan yang aneh itu, setelah dicari kesana kemari akhirnya Belanda tahu bahwa Sagipoddin memiliki segudang wijen. Belanda sangat senang dengan ketersediaan wijen yang tak terduga itu, karena itu berani membeli dengan harga mahal.
Bak pucuk dicinta ulam tiba, maka minat Belanda itu tidak disia-siakan. Karena wijen itu dulunya dibeli seharga beras, maka Sagipoddin minta sekarang dibeli dengan seharga beras. Belanda yang lagi butuh tidak keberatan dengan harga mahal yang ditentukan itu, lalu dibelilah seluruh wijen Sagipoddin, maka keuntungan yang diperoleh berlipat ganda, sehingga perdaganannya juga semakin besar.
Keuntungan itu dipergunakan untuk mempercepat ekspansi bisnisnya, dan kawasan perdagangan yang strategis mulai dibelinya, yang kemudian dijadikan pertokoan dan pergudangan. Akhirnya ia juga bisnis persewaan toko, penginapan dan pergudangan. Sebagai seorang santri taat ia banyak pergunakan hartanya untuk sedekah membangun pesantren dan masjid.
Banyak kiai besar yang diundang kerumahnya, Sagipoddin sangat senang bila kiai yang berkunjung mau menginap di rumahnya, maka pulangnya mereka diberi berbagai macam sumbangan untuk pembangunan sarana pendidikan dan ibadah, sehingga dalam waktu singkat Sagipoddin sangat terkenal di Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Walaupun ia bukan ulama tetapi karena masih keturunan ulama, maka ia sangat hormat dan mencintai ulama.
Abdul Latif Sagipuddin ini menikah dengan Tasirah mempunyai 12 orang anak, salah satunya bernama H. Turmudzi, yang kawin dengan Darsiyah, mempunyai anak yang bernama H. Alwi, kemudian Alwi mempunyai sepuluh orang anak yang salah satunya bernama Marzuki. Dari H. Marzuki itulah kemudian lahir seorang anak yang bernama Hasan, yang lahir pada 1869 di Ampel pusat kota Surabaya yang kemudian dikenal dengan Hasan Gipo. Jadi ia merupakan generasi kelima dari dinasti Gipo.
Sebagai seorang yang mampu secara ekonomi Hasan Gipo juga mendapatkan pendidikan cukup memadai selain belajar di beberapa pesantren di sekitar surabaya, juga sekolah di pendidikan umum ala Belanda. Meskipun mendapatkan pendidikan model Belanda tetapi jiwa kesantriannya masih sangat kental dan semangat kewiraswastaannya sangat tinggi, sehingga kepemimpinan ekonomi di kawasan bisnis Pabean masih dipegang oleh keluarga itu, hingga masa Hasan Gipo.
Karena hampir seluruh kiai Jawa Timur merasa sebagai santri dan pengikut Sunan Ampel, maka setiap saat mereka berziarah ke makam keramat di kota Surabaya itu. Kunjungan mereka itu banyak disambut oleh keluarga Gipo di Ampel. Persahabatan Hassan Gipo dengan para ulama yang telah dirintis kakeknya terus dilanjutkan, sehingga ia sangat dikenal oleh kalangan ulama, sebagai saudagar, aktivis pergerakan dan administratur yang cerdik. Tidak sedikit pertemuan para ulama baik untuk bahtsul masail maupun untuk membahas perkembangan politik yang dibeayai dan difasilitasi oleh Hasan Gipo. Sebagai sesama penerus Sunan Ampel dan sesama sudagar membuat Hasan Gipo sering bertemu dengan KH Wahab Hasbullah dalam dunia pergerakan.
Sebagai seorang pedagang dan sekaligus aktivis pergerakan yang tinggal di kawasan elite Surabaya, hal itu sangat membantu pergerakan Kiai Wahab. Dialah yang selalu mengantar Kiai Wahab menemui para aktivis pergerakan yang ada di Surabaya, seperti HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo dan lain sebagainya. Di situlah Kiai Wahab dan Hasan Gipo berkenalan dengan para murid HOS Cokroaminoto seperti Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, SK Trimurti dan masih banyak lagi. Di situlah para aktivis pergerakan nasional baik dari kalangan nasionais dan santri bertemu merencanakan kemerdekaan Indonesia.
Pertemuan antara Hasan Gipo dengan Kiai Wahab serta kiai lainnya makin intensif. Ia kemudian terlibat aktif dalam pendirian Nahdlatul Wathan (1914), walaupun tidak tercatat sebagai pengurus. Selanjutnya ia juga menjadi peserta diskusi dalam forum Taswirul Afkar (1916).
Karena itu pengetahuannya sangat teruji, dan kemapuan berargumentasinya sangat memukau. Selain itu ia juga telah aktif terlibat dalam Nahdlatut Tujjar (1918) yang memang bidangnya. Dalam forum semacam itu ia berkenalan dengan ulama lainnya makin intensif seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan beberapa kiai besar lainnya di Jawa  yang telah lama menjadin pershabatan dengan keluarga Ampel itu.
Bahkan ketika para ulama membentuk Komite Hejaz dan akan mengirimkan utusan ke Makah, sumbangan Hasan Gipo juga sangat besar, karena dialah yang mempelopori penghimpunan dana dan ia sendiri pun menyumbang sangat besar. Atas prestasinya yang banyak memberikan sumbangan, dan memiliki kecakapan teknis dalam menangani administrasi organisasi serta penggalangan dana masyarakat.
Karena itu ketika Nahdlatul Ulama berdiri, dalam sebuah pertemuan terbatas yang dipimpin Kiai Wahab Hasbullah di kawasan Bubutan Surabaya itu ia langsung ditunjuk sebagai Hoftbestoor (Pengurus Besar) NU sebagai Ketua Tanfidziyah  dan usul itu langsung disetujui oleh Kiai Hasyim Asy’ari yang sebelumnya sudah sangat mengenal Hasan Gipo serta latar belakang keluarganya.
Walau sebagai pengurus NU bisnisnya tetap berkembang, bahkan kemudian juga dikembangkan ke sektor properti, ia banyak memiliki perumahan, pertokoan dan pergudangan yang ini kemudian disewakan, saat itu kebutuhan terhadap sarana bisnis tinggi, karena itu tingkat hunian propertinya juga tinggi, sehingga keuntungan yang diperoleh dari sini juga tinggi, sehingga ia bisa menyumbang banyak ke NU, baik ketika Muktamar maupun untuk sosialisasi dan pengembangan NU ke daerah-daerah lain, sehingga bisa dilihat NU berkembang sangat cepat dari Surabaya, pada tahun kedua telah menyebar di Jawa Tengah, bahkan pada tahun kelima telah menyebar ke Jawa Barat, bahkan ke Kalimantan dan Singapura.
Seperti dilukiskan Saifuddin Zuhri, yang menggabarkan Hasan Gipo sebagai sosok yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga gagah secara fisik, karena itu ketika terjadi perdebatan tentang masalah teologi antara Kiai Wahab Hasbullah dengan Muso yang ateis itu bisa mengganti kedudukan Kiai Wahab yang bosan menghadapi Muso yang hanya bisa debat kusir tanpa nalar dan tanpa hujjah yang benar. Maka dengan gagah berani ia  melakukan  debat dengan Muso tokoh PKI yang dikenal sebagai Singa podium itu ditaklukkan. Setiap argeumennya bisa dipatahkan, sehingga alumni Moskwo dan anak didik Lenin itu keteteran. Tidak hanya itu Arek Suroboyo ini juga berani menantang Muso berkelahi secara fisik. Anehnya Muso yang biasanya brangasan itu tidak berani menghadapi tantangan Hasan Gipo.
Selain menguasai ilmu agama, setiap orang pesantren selalu menguasai ilmu kanuragan, sebab ini bagian dari tradisi pesantren, dan tampaknya Hasan Gipo juga memiliki ilmu ini, itu yang membuat Muso ngeri menghadapi. Hasan Gipo. Jabatan ketua Tanfidziyah itu dipegang Hasan Gipo selama dua masa jabatan, baru pada Muktamar NU Ketiga 1929 di Semarang ia digantikan oleh KH. Noor sebagai ketua Tanfidziyah yang baru juga berasal dari Surabaya. Selanjutnya pada Muktamar NU ke 12 tahun 1937 di Malang kemudian KH Noor digantikan oleh KH Mahfud Shiddiq, kakak kandung KH Ahmad Shiddiq.
Pada periode awal ini, NU memang banyak diikuti oleh para pengusaha, selain Hasan Gipo ada beberapa pengusaha besar yang masuk ke NU yaitu Haji Burhan Gresik. Ia memiliki pabrik kulit dan persewaan rumah dan gudang. Kemudian adalagi pengusaha besar Haji Abdul Kahar Kawatan Surabaya, yang menguasai perdagangan pertanian di Jawa Timur. Kemudian ada H. Jassin, seorang pemilik pabrik garmen yang khusus diekspor ke India dan Pakistan. Mereka semuanya pernah aktif terlibat aktif dalam Nahdlatut Tujjar, maka ketika NU berdiri secara otomatis mereka bergabung ke NU. Dengan demikian NU bisa berdiri mandiri tanpa bantuan dari kolonial, sehingga bebas menentukan gerak organisasinya dan mengatur pendidikan pesantren yang diselenggarakannya.
Pada periode awal ini selain menggiatkan bidang pendidikan, maka NU sangat peduli dengan usaha pengembangan ekonomi dengan membentuk berbagai syirkah. Usaha impor sepeda dari Eropa dirintis sejak tahun 1935, karena untuk mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri, dan tentunya sangat dibutuhkan sebagai sarana transportasi warga NU dalam mengembangkan jamiyah.
Selain itu juga dibentuk badan pengimpor gerabah dan barang kebutuhan lainnya dari Jepang. Usaha itu terus dikembangkan, kemudian NU juga mulai masuk lebih serius dalam bidang industri percetakan dan lain sebaginya. Atas inisiatif para kiai dan para tujjar yang ada dalam tubuh NU itu pergerakan NU semakin gencar, sehingga dalam waku singkat menjadi organisasi besar.
Selain bisnis yang bersifat kolektif para pengurus NU sejak dari Kiai Hasyim Asy’ari, termasuk Kiai Wahab Hasbullah. Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Bisri, Kiai Muslih Purwokerto, semuanya mempunyai usaha sendiri-sendiri. Usaha itu dibangun selain untuk memenuhi ekonomi keluarga yang terpenting bisa menjadi kemandirian agar tidak minta bantuan pada pemerintah kolonial Belanda. Jajaran pimpinan NU terdiri dari orang-orang independen, tidak ada yang menggantungkan ekonominya pada birokrasi kolonial.
Karena itu sejak masa kemerdekaan kemandirian kiai dan NU tetap terjaga, karena memiliki kemandirian secara ekonomi. Pembangunan ekonomi di sini ditempatkan sebagai strategi politik untuk menjaga kemandirian dan kebebasan warga dari ketergantungan dan tekanan dari penjajah.
Setelah tidak lagi menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU, Hasan Gipo kembali mengembangkan bisnisnya, hingga semakin besar. Sebagian hasil keuntungannya tetap disumbangkan pada NU dan pesantren. Sebab pada masa rintisan NU membutuhkan banyak dana, apalagi saat itu Muktamar dilaksanakan setiap tahun, maka sudah pasti Hasan Gipo tergerak untuk membantu pendanan Muktamar NU setiap kali diselenggarakan, baik di Surabaya maupun di luar Jawa.
Aktivitas Hasan Gipo terus dilanjutkan hingga menjelang wafatnya  pada tahun 1934, kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Ampel dalam pemakaman khusus keluarga Sagipoddin. Ia mempunyai tiga orang anak, yang kemudian melanjutkan usaha bisnisnya dan sekaligus sebagai penerus dinasti Gipo yang masih terus aktif hingga saat ini.
Lahu Al-Faatihah
Sumber: Fahmi Ali

Senin, 18 Juli 2022

Tiga Ulama Yang Mempredeksi Kemerdekaan Indonesia

 Ulama Indonesia, jauh sebelum 17 Agustus 1945 sudah memprediksikan negeri ini akan mengalami gangguan dan akhirnya mampu meraih kemerdekaan. Gangguan terhadap harkat dan martabat bangsa ini, tak lain untuk menguji semangat persatuan dan kesatuan. Tanpa adanya lawan yang merampas marwah bangsa Indonesia, maka persatuan sangat sulit diciptakan.

Namun dengan hadirnya penjajah, maka seluruh warga bangsa merasa memiliki dan meminta kembali hak pribumi. Oleh para ulama, masyarakat yang beragama Islam diajak melakukan serangkaian mujahadah, istighatsah, tirakat dan doa bersama agar Indonesia selamat dari penjajahan dan bisa merdeka.

Dari kisah para ulama terdahulu, ada banyak cerita menarik tentang penjajahan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah tiga orang ulama yang sudah memberikan isyarat tentang kondisi Indonesai jauh-jauh hari sebelum diserang Belanda, Jepang dan merdeka. Kisah ini dijelaskan oleh Zainul Milal Bizawie dalam bukunya “Masterpice Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama Santri 1830-1945”.

Pertama, KH Abdus Syakur Senori Tuban (wafat 1359 H/1940 M). Kyai Syakur dikenal sebagai teman akrab KH Hasyim Asy’ari yang memiliki ilmu kasyf. Dengan ilmu yang dimilikinya, Mbah Syakur membuat sya’ir tentang kedatangan tentara Jepang dan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 M/1365 H. Padahal lima tahun sebelum merdeka, Mbah Syakur sudah wafat. Syair karya Mbah Syakur adalah:

ارخ اليفا في غشسا * صفر فكل بالواحد
بقتالهم وسيوفهم * ولججهم وتعاند
وفي رجب ترى عجبا * وفي الشهر الذي بعده
وفي رمضان همهمة * وهدَّة بعده هدَّة
وفي شوَّال يشول القوم * ويسكن في ذوي القعدة
وفيها يخرج الهادي * امام الحق لا بعده

Tarikhkanlah bahwa Jepang akan menjinakkan Nusantara pada tahun غشسا ghisy-syisa

(Jika dihitung dengan hisabul jummmal adalah 1361 H/1942 M)

Ia sebagai kolonial yang menyengsarakan bangsa Indonesia

Silih berganti, peperangan, adu senjata dan perihnya mengarungi samudera.

Ketika bulan Rajab (1365 H/Juni 1945) telah terjadi keajaiban, kemudian semakin lumpuh pada bulan Sya’ban (Juli 1945).

Kemudian pada bulan Ramadan (17 Agustus 1945) datanglah masa gembira ria (proklamasi) bagi bangsa Indonesia.

Dan pada bulan Syawwal (September 1945), penderitaan Nusantara semakin membaik. Posisi Indonesia semakin tenang dengan kemerdekaannya pada bulan Dzul Qa’dah (Oktober 1945)

Di bulan inilah Allah menampilkan sosok pemimpin yang dapat mengayomi masyarakatnya (Soekarno), seorang pemimpin sejati yang tidak ada duanya.

Kedua, Syaikh Ibrahim bin Husain Buengcala Kuta Baro Aceh. Pada tahun 1288 H/1871 M, Syaikh Ibrahim menyatakan: “Negeri di bawah angi (Nusantara) istimewanya akan lepas daripada tangan Holanda (Belanda), sesudah China bangsa lukid (mata sipit, maksudnya bangsa Jepang). Maka Insya Allah ta’ala pada tahun 1365 H (1945 M) lahir satu keajaan yang adil dan bijaksana dinamakan al-Jumhuriyah al-Indunisiyah yang sah”. Kalimat ini dinyatakan 71 tahun sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Tentunya Syaikh Ibrahim memberikan isyarat kepada masyarakat Aceh agar menghormati proses perjuangan bangsa hingga meraih kemerdekaan dengan sempurna.

Dan ketiga, KH Chasbullah Sa’id Jombang (ayahanda KH Abdul Wahab Chasbullah). Setelah melakukan tirakat dan riyadlah yang cukup panjang, Mbah Chasbullah meninggalkan tulisan pendek yang ditutupi dengan kain satir di menara Masjid Pondok Induk (Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang).

Menjelang wafatnya, Mbah Chasbullan memberikan pesan pada salah seorang santrinya: “Lek misale aku mati, omongno nang Wahab kongkon buka tulisan nak menara tahun 1948; kalau misalnya aku sudah meninggal, katakan pada Wahab untuk membuka tulisan di menara tahun 1948”. Setelah menyampaikan pesan itu, beberapa bulan Mbah Chasbullah wafat.

Maka sesuai dengan pesan Abahnya, KH Abdul Wahab Chasbullah membuka isi pesan itu pada 1948. Proses membuka isi pesan itu diiringi dengan pembacaan shalawat burdah yang diikuti juga oleh segenap santrinya. Ternyata isi pesan Mbah Chasbullah sangat singkat, yakni tulisan: حر تم (hurrun tammun, artinya kemerdekaan yang sempurna). Dan ternyata tahun 1948, kemerdekaan Indonesia sudah diakui oleh dunia dan agresi militer Belanda juga sudah sukses dipukul mundur.

Usaha riyadlah dan tirakat dalam mendukung kemerdekaan sejati itu selalu dilakukan oleh Mbah Chasbullah dengan menyuruh santrinya i’tikaf dan membaca amalan shalwat burdah selama sehari penuh. Sedangkan Mbah Chasbullah memilih berdoa dan riyadlah di rumahnya dengan khusyu’ penuh harapan.

Tiga sosok ulama yang memiliki ilmu kasyaf ini patut untuk dijadikan ‘ibrah bahwa para Kyai sangat peduli dalam proses perjuangan bangsa Indonesia. Karena ilmu yang dimiliki oleh Kyai lebih banyak agama, maka proses keagamaan itu yang menjadi dominan dilakukan. Semangat dalam membaca tanda alam dan isyarat dari Allah itulah yang selalu diasah. Sehingga wajar bila para Kyai sudah memberikan prediksi tentang kondisi bangsa ini jauh hari sebelum kemerdekaan.

Sebagai anak bangsa yang sudah menerima kemerdekaan, tentunya patut menghargai usaha para pendahulu yang telah berjuang untuk bangsa ini. Kemerdekaan dan kebahagiaan hidup dalam suasana Indonesia semacam ini membuat hidup tenang dan bebas beraktivitas apapun. Maka sudah sewajarnya kemerdekaan ini diisi dengan hal positif dari memperkuat persatuan bangsa, memperluas wawasan nusantara, menambah ilmu pengetahuan dan menjaga tumpah darah dengan segenap cinta bangsa.***

M. Rikza Chamami, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Dosen UIN Walisongo Semarang.

Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia
Ulama Indonesia, jauh sebelum 17 Agustus 1945 sudah memprediksikan negeri ini akan mengalami gangguan dan akhirnya mampu meraih kemerdekaan. Gangguan terhadap harkat dan martabat bangsa ini, tak lain untuk menguji semangat persatuan dan kesatuan. Tanpa adanya lawan yang merampas marwah bangsa Indonesia, maka persatuan sangat sulit diciptakan.

Namun dengan hadirnya penjajah, maka seluruh warga bangsa merasa memiliki dan meminta kembali hak pribumi. Oleh para ulama, masyarakat yang beragama Islam diajak melakukan serangkaian mujahadah, istighatsah, tirakat dan doa bersama agar Indonesia selamat dari penjajahan dan bisa merdeka.

Dari kisah para ulama terdahulu, ada banyak cerita menarik tentang penjajahan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah tiga orang ulama yang sudah memberikan isyarat tentang kondisi Indonesai jauh-jauh hari sebelum diserang Belanda, Jepang dan merdeka. Kisah ini dijelaskan oleh Zainul Milal Bizawie dalam bukunya “Masterpice Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama Santri 1830-1945”.

Pertama, KH Abdus Syakur Senori Tuban (wafat 1359 H/1940 M). Kyai Syakur dikenal sebagai teman akrab KH Hasyim Asy’ari yang memiliki ilmu kasyf. Dengan ilmu yang dimilikinya, Mbah Syakur membuat sya’ir tentang kedatangan tentara Jepang dan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 M/1365 H. Padahal lima tahun sebelum merdeka, Mbah Syakur sudah wafat. Syair karya Mbah Syakur adalah:

ارخ اليفا في غشسا * صفر فكل بالواحد
بقتالهم وسيوفهم * ولججهم وتعاند
وفي رجب ترى عجبا * وفي الشهر الذي بعده
وفي رمضان همهمة * وهدَّة بعده هدَّة
وفي شوَّال يشول القوم * ويسكن في ذوي القعدة
وفيها يخرج الهادي * امام الحق لا بعده

Tarikhkanlah bahwa Jepang akan menjinakkan Nusantara pada tahun غشسا ghisy-syisa

(Jika dihitung dengan hisabul jummmal adalah 1361 H/1942 M)

Ia sebagai kolonial yang menyengsarakan bangsa Indonesia

Silih berganti, peperangan, adu senjata dan perihnya mengarungi samudera.

Ketika bulan Rajab (1365 H/Juni 1945) telah terjadi keajaiban, kemudian semakin lumpuh pada bulan Sya’ban (Juli 1945).

Kemudian pada bulan Ramadan (17 Agustus 1945) datanglah masa gembira ria (proklamasi) bagi bangsa Indonesia.

Dan pada bulan Syawwal (September 1945), penderitaan Nusantara semakin membaik. Posisi Indonesia semakin tenang dengan kemerdekaannya pada bulan Dzul Qa’dah (Oktober 1945)

Di bulan inilah Allah menampilkan sosok pemimpin yang dapat mengayomi masyarakatnya (Soekarno), seorang pemimpin sejati yang tidak ada duanya.

Kedua, Syaikh Ibrahim bin Husain Buengcala Kuta Baro Aceh. Pada tahun 1288 H/1871 M, Syaikh Ibrahim menyatakan: “Negeri di bawah angi (Nusantara) istimewanya akan lepas daripada tangan Holanda (Belanda), sesudah China bangsa lukid (mata sipit, maksudnya bangsa Jepang). Maka Insya Allah ta’ala pada tahun 1365 H (1945 M) lahir satu keajaan yang adil dan bijaksana dinamakan al-Jumhuriyah al-Indunisiyah yang sah”. Kalimat ini dinyatakan 71 tahun sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Tentunya Syaikh Ibrahim memberikan isyarat kepada masyarakat Aceh agar menghormati proses perjuangan bangsa hingga meraih kemerdekaan dengan sempurna.

Dan ketiga, KH Chasbullah Sa’id Jombang (ayahanda KH Abdul Wahab Chasbullah). Setelah melakukan tirakat dan riyadlah yang cukup panjang, Mbah Chasbullah meninggalkan tulisan pendek yang ditutupi dengan kain satir di menara Masjid Pondok Induk (Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang).

Menjelang wafatnya, Mbah Chasbullan memberikan pesan pada salah seorang santrinya: “Lek misale aku mati, omongno nang Wahab kongkon buka tulisan nak menara tahun 1948; kalau misalnya aku sudah meninggal, katakan pada Wahab untuk membuka tulisan di menara tahun 1948”. Setelah menyampaikan pesan itu, beberapa bulan Mbah Chasbullah wafat.

Maka sesuai dengan pesan Abahnya, KH Abdul Wahab Chasbullah membuka isi pesan itu pada 1948. Proses membuka isi pesan itu diiringi dengan pembacaan shalawat burdah yang diikuti juga oleh segenap santrinya. Ternyata isi pesan Mbah Chasbullah sangat singkat, yakni tulisan: حر تم (hurrun tammun, artinya kemerdekaan yang sempurna). Dan ternyata tahun 1948, kemerdekaan Indonesia sudah diakui oleh dunia dan agresi militer Belanda juga sudah sukses dipukul mundur.

Usaha riyadlah dan tirakat dalam mendukung kemerdekaan sejati itu selalu dilakukan oleh Mbah Chasbullah dengan menyuruh santrinya i’tikaf dan membaca amalan shalwat burdah selama sehari penuh. Sedangkan Mbah Chasbullah memilih berdoa dan riyadlah di rumahnya dengan khusyu’ penuh harapan.

Tiga sosok ulama yang memiliki ilmu kasyaf ini patut untuk dijadikan ‘ibrah bahwa para Kyai sangat peduli dalam proses perjuangan bangsa Indonesia. Karena ilmu yang dimiliki oleh Kyai lebih banyak agama, maka proses keagamaan itu yang menjadi dominan dilakukan. Semangat dalam membaca tanda alam dan isyarat dari Allah itulah yang selalu diasah. Sehingga wajar bila para Kyai sudah memberikan prediksi tentang kondisi bangsa ini jauh hari sebelum kemerdekaan.

Sebagai anak bangsa yang sudah menerima kemerdekaan, tentunya patut menghargai usaha para pendahulu yang telah berjuang untuk bangsa ini. Kemerdekaan dan kebahagiaan hidup dalam suasana Indonesia semacam ini membuat hidup tenang dan bebas beraktivitas apapun. Maka sudah sewajarnya kemerdekaan ini diisi dengan hal positif dari memperkuat persatuan bangsa, memperluas wawasan nusantara, menambah ilmu pengetahuan dan menjaga tumpah darah dengan segenap cinta bangsa.***

M. Rikza Chamami, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Dosen UIN Walisongo Semarang.

Source: NU.or.id

Habib Abdullah Bin Ali Al - Haddad Keramat Sangeng

 



 Beliau adalah Keturunan Al-Qutb Al-Ghouts Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, seorang putra yang sungguh-sungguh ahli ibadah, tampak di wajahnya cahaya yang bersinar; (yaitu) cahaya ulama salaf, (la seorang) dai yang akan menggantikan kedudukan salafnya.

Dalam kunjungannya ke Nusantara di sekitar penghujung tahun 2010, yaitu dalam sebuah kesempatan majelis rauhah di Jakarta, Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri menyinggung sebuah qashidah panjang yang ditulis oleh Shahiburratib, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Bait-bait qashidah nan indah itu keseluruhannya berakhiran huruf "ta" dan merupakan qashidah yang teramat mulia. Karenanya, qashidah itu kemudian disebut qashidah ta-iyyah al-kubra.

Habib Salim menuturkan, qashidah tersebut menyimpan kandungan makna yang sangat dalam dan agung. Sehingga dikatakan, tidaklah sanggup mensyarahi kandungan isi qashidah tersebut kecuali orang-orang yang sudah sampai pada maqam Syaikh Muhyiddin Ibnul 'Arabi, salah seorang sufi besar dalam dunia Islam, yang dikenal banyak memiliki karya-karya tasawuf dalam pembahasan yang sarat makna, filosofis, tajam, dan mendalam.

Apa yang disinggung Habib Salim tersebut mengingatkan kita pada sosok seorang ulama yang memiliki keterkaitan kisah dengan gashidah itu, yang sang penyusunnya sendiri pernah mengatakan terkait qashidah tersebut, "Kelak qasidah ini akan disempurnakan oleh salah satu keturunanku, dengan satu bait."

Memang, qashidah yang pada awal-nya berbunyi "Bu'itstu lijiranil 'aqiqi tahiyyah, wa awda'tuha rihash shaba hina habbat…" itu nyatanya berjumlah 249 bait, jumlah angka yang terkesan tak sempurna. Berbeda, misalnya, bila berjumlah 250 bait. Namun, tentu ada saja hikmah di balik tindak-tanduk seorang kekasih Allah, yang kita hanya bisa mereka-reka. Di antaranya, mungkin saja itu adalah salah satu isyarat yang ingin disampaikan oleh shahiburratib tentang keutamaan salah seorang keturunannya.

Di masa Habib Abdullah bin Ali Al- Haddad, dialah yang kemudian menggenapkan qashidah itu dengan satu bait penutup, "Wa aliri wa ashhabin wa man kana tabi'an li minhajhim fi kulli haththin wa rihlah". Hal ini menunjukkan bahwa keutamaan Habib Abdullah bin Ali Al- Haddad, jauh hari sebelumnya, telah diketahui oleh sang datuk, Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.

Kehidupan Habib Abdullah bin Ali Al- Haddad adalah kehidupan yang penuh dengan keteladanan, di samping berbagai kisah kekeramatan, la, yang kelahiran Tarim, Hadhramaut, menghabiskan masa akhir hayatnya di kota Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, yang kemudian jasad mulianya dikebumikan di sebuah desa di kota itu yang bernama Sangeng. Itulah sebabnya di kemudian hari orang menyebutnya "Keramat Sangeng".

Agar tidak rancu, sedikit kami jelaskan di sini. Antara dirinya dan datuknya, Shahiburratib, memiliki nama yang sama, yaitu sama-sama Abdullah. Ke-duanya juga sama-sama dari keluarga Al-Haddad, yang satu "bin Alwi" (yang Shahiburratib) dan satunya lagi "bin Ali" (yang manaqibnya tengah kita ulas kali ini). Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad adalah keturunan keenam Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Berikut ini urutan nasab yang menghubungkan keduanya, Abdullah bin Ali bin Hasan bin Husein bin Ahmad bin Hasan bin Shahiburratib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.

Kesungguhan dalam Ilmu dan Ibadah

Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad lahir pada tanggal 4 Shafar 1261 H (sekitar Februari 1840 M) di kota Tarim, Hadhramaut. la diasuh dan dididik dalam keluarga yang di dalamnya tercium semerbak aroma kewalian dan keilmuan. Sejak kecil, ayahnya sendiri, yaitu Habib Ali bin Hasan Al-Haddad, memberikan pendidikan kepadanya, terutama dalam menghafal Al-Qur'an.

la belajar beberapa cabang ilmu agama dari para ulama besar di masa itu, seperti Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (penyusun Bughyah al-Musytarsyidin) dan Habib Umar bin Hasan Al-Haddad di Ghurfah, Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi di Seiwun, Habib Muhsin bin Alwi Assegaf dan Habib Muhammad bin Ibrahim Bilfaqih di Tarim Dari guru-gurunya itu ia mempelajari ilmu tafsir, hadits, fiqih, hadits, dan cabang-cabang ilmu lainnya, la juga banyak memperoleh ijazah dan pengakuan dari tokoh-tokoh ulama serta ahli sufi di zamannya sebagai bukti penguasaannya dalam ilmu syari'at dan hakikat.

Tahun 1281 H/1860 M ia meninggal-kan kampung halamannya menuju kota Du'an untuk semakin memperdalam pengetahuannya. Untuk tujuan itu ia mendatangi sejumlah ulama. Di samping itu ia juga menziarahi makam-makam ulama dan shalihin, seperti Syaikh Sa'id bin Isa Al-Amudi.

Dari Du'an, Habib Abdullah melanjutkan perjalanannya ke kota Qaidun dan belajar kepada Habib Thahir bin Umar Al-Haddad dan Syaikh Muhammad bin Abdullah Basawdan. Di hadapan mereka ia membaca kitab Minhaj ath-Thalibin, karya Imam Nawawi, dan mendapatkan ijazah beberapa cabang ilmu, seperti ilmu manthiq, aqidah, dan ushul.

Pada tahun 1291 H/1872 M, ia menikah dengan Syarifah Aisyah binti Hamid bin Alwi Al-Hamid, di Tarim. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai lima anak: Alwiyah, Nur, Fatimah, Muznah, dan Hasan.

Meski telah banyak belajar ke sana-sini, bahkan juga telah menikah, semangat belajarnya tetap besar. Tahun 1294

H/1873 M ia pergi ke kota Guwairah dan bertemu Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar (ayahanda Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar, Bondowoso). la mempelajari sejumlah cabang ilmu pada derajat yang tinggi dan men-dapat ijazah dari gurunya itu.

Pada salah satu muqaddimah ijazah tertulisnya, sang guru menuliskan, "Aku memberikan ijazah kepada keturunan Al-Qutb Al-Ghauts Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, seorang putra yang sungguh-sungguh ahli ibadah, tampak di wajahnya cahaya yang bersinar, (yaitu) cahaya ulama salaf, (la seorang) dai yang akan menggantikan kedudukan salafnya. Aku menganggapnya sebagai anakku."

Kesungguhan Habib Abdullah bukan hanya dalam urusan menuntut ilmu, tapi juga dalam hal olah jiwa. Disebutkan, di masa mudanya ia tidak pernah meninggalkan rutinitas ibadahnya, yang wajib maupun yang sunnah. Dalam keadaan bagaimanapun ia tetap menjalankannya, seperti shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya.

 Suatu saat, kesehatannya terganggu, kondisi fisiknya pun menurun. Namun berbagai kebiasaannya dalam beribadah sehari-hari tak berubah.

Melihat keadaan seperti itu, didorong rasa kasihan melihat kondisi putranya, sang ibu pun berkata kepadanya, "Hai anakku, bila engkau ingin kebaikan dan keridhaanku, taatilah perintahku." Demikian Ujar sang bunda setelah memerintahkan Habib Abdullah untuk menurunkan intensitas ibadahnya sejenak dan banyak-banyak beristirahat, mengingat kondisi kesehatannya yang sedang sakit.

 Setelah diperintahkan demikian oleh sang bunda, demi mengejar ridha ibunya, ia pun akhirnya hanya menunaikan shalat fardhu dan rawatib. Pada tahun 1295 H/1874 M ia berangkat ke Tanah Suci untuk mengerjakan rukun Islam yang kelima, yaitu ibadah haji, ke Baitullah, sekaligus berziarah ke makam Rasulullah SAW.

Selama di Makkah ia tinggal di rumah Mufti kota Makkah, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi (ayahanda Shahib Simthud Durar, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi), sekaligus menyempatkan diri untuk mendalami ilmu-ilmu agama kepada Habib Muhammad, la juga mendapatkan ijazah dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.

 Usai tinggal beberapa lamanya di kota Makkah, ia menuju kota Madinah dan tinggal di sana selama empat bulan.

Di Madinah ia menemui Syaikh Muhammad Abdul Mu'thi bin Muhammad AI-'Azab, seorang faqih dan dikenal pula sebagai seorang pakar bahasa Arab, pengarang kitab Maulid AI-'Azab.

Habib Abdullah meminta ijazah kepadanya, tetapi Syaikh AI-'Azab tak mau memberikan sebelum ia diberi ijazah terlebih dulu oleh Habib Abdullah. Maka Habib Abdullah kemudian memberikannya ijazah berupa wirid-wirid susunan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, lalu Syaikh Muhammad AI-'Azab pun memberikan ijazah kepadanya.

Begitulah, hari demi hari kemuliaan Habib Abdullah semakin terlihat. Itu semakin tampak ketika ia ditemui Sayyid Umar Syatha, mufti Haramain. Diceritakan, Sayyid Umar mimpi berjumpa Rasulullah SAW dan diperintahkan agar berziarah kepada Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad. "Dia adalah cucuku yang sebenarnya," kata Nabi kepada Sayyid Umar Syatha.

 

 Rihlah Dakwah

Pada tahun 1297 H/1879 M Habib Abdullah berdakwah ke tanah Melayu. Mula-mula ke Singapura, kemudian menuju Johor. Di Johor ia memperoleh sahabat, yaitu Syed Salim bin Thaha Al- Habsyi dan Sultan Abu Bakar bin Ibrahim (sultan Johor saat itu).

Pada waktu peresmian istana Sultan Johor ini, datanglah Sultan Ahmad dari negeri Pahang yang mencari-cari diriya. Setelah bertemu, sang sultan memintanya untuk menjadi mufti di negerinya. Namun permintaan itu ditolak olehnya dengan baik dan bersahabat.

  Habib Abdullah tinggal di Johor selama empat tahun dan menikah dengan seorang syarifah dari keluarga Bin Syahab. Namun istrinya wafat tak lama setelah mereka menikah.

Setelah empat tahun di Johor, ia meneruskan perjalanan dakwahnya ke Pulau Jawa. Mula-mula ia tiba di Betawi, yang ketika itu masih dalam pemerintahan Hindia Belanda. Tak lama di Betawi ia lalu meneruskan ke Bogor, Solo, dan Surabaya, tetapi semua kota di Indonesia yang /disinggalhi dan dilaluinya tak dapat menarik hatinya untuk menetap di tempat tersebut, walaupun penduduk setempat meminta kesediaannya agar ber¬kenan tinggal di tengah-tengah mereka.

 Syawwal 1301 H/1903 M ia mulai menetap di kota Bsangil, Jawa Timur. Di sinilah akhirnya ia memutuskan untuk tinggal dan berdakwah.

Tanggal 27 Jumadal Ula 1302 H/ 1903 M ia menikah lagi dengan Syarifah Maryam binti Ali Alaydrus, seorang wanita yang dikenal keshalihahannya. Di antara putra hasil pernikahannya dengan Syarifah Maryam adalah Muhammad, Hamid, Ali, dan Umar.

 Di rumahnya, ia membuka majlis ta'lim di Masjid Kal ianyar. Di antara muridnya, ada yang kemudian menjadi ulama di kemudian hari, seperti Kiai Zayadi, Kiai Husain, Kiai Musthafa, Kiai Asyiq, serta Kiai Muhammad Thahir dari Bangku, Singosari. Disebutkan, Kiai Cholil Bangkalan dan Kiai Hasyim Asy'ari Jombang juga termasiuk yang beristifadah (mengambil faidahi ilmu) kepada Habib Abdullah, di antaramya dengan mengambil ijazah darinya. Sementara, dari kalangan habaib sendiri, yang sempat beristifadah kepadanya, di antaranya Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar, Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad, Habib Ali bin Abdiurrahman Al-Habsyi, Habib Ahmad bin Muhsin Al-Haddar.

 Majelis rauhahnya di masjid Kalianyar, ia membacaakan kitab-kitab karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Rauhah ini dihadiri sekitar 60 orang.

Dikisahkan, suatu ketika, saat itu waktu menjelang datangnya maghrib, kopi yang ia siapkan dari rumah yang ditempatkan di ceret berukuran agak kecil, yang hanya cukup untuk jama'ah yang hadir, telah dlituangkan.

 Di tengah berjalannya majelis, tiba- tiba datanglah Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar dengan rombongannya, sekitar 60 orang. Maka, Habib Abdullah menyuruh Syaikh Mubarak Jabli menuangkan kopi agar menghidangkan¬nya kepada para tamunya.

Pada saat menuangkan kopi, Syaikh Mubarak yakin bahwa kopinya telah habis. "Apa yang harus saya tuang? Sudah tidak ada kopi setetes pun dalam ceret ini," begitulah kira-kira Syaikh Mubarak berkata di dalam hati.

Kemudian Habib Abdullah mengulangi perintahnya, "Segera tuangkan kopinya!"
Syaikh Mubarak, yang kala itu berdekatan dengan putra Habib Abdullah, yaitu Habib Muhammad, memegang kaki putranya itu sambil berbisik, 'Tolong sampaikan, ceretnya sudah kosong!"

Habib Muhammad menjawab, 'Turutilah perintah Al-Walid (Ayahanda)!"

Lalu Syaikh Mubarak pun menuang-kan ceret yang diyakininya telah kosong itu. Ternyata, atas izin Allah, tuangan demi tuangan Syaikh Jabir dapat memenuhi seluruh cangkir yang ada. Bahkan, berlebih.

Manhaj Dakwah Rasulullah Kembali pada qashidah taiyyah al-kubra gubahan Shahiburratib Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Dalam qashidahnya itu, Habib Abdullah mensifati beberapa keadaan para kekasih Allah. Di antaranya, ada di antara mereka yang lebih suka sembunyi atau ingin menyendiri dan ada di antara mereka yang berbaur. Kesemuanya, tak diragukan lagi, adalah para kekasih Allah.

Selanjutnya, disebutkan dalam qashidah itu, ketika Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad ditanya, siapa yang paling mulia di antara para kekasih Allah dengan segala keadaannya itu, Habib Abdullah menjawab bahwa yang paling mulia adalah mereka yang menampakkan dirinya di jalan Allah SWT dengan mengajari masyarakat umum, karena itulah gambaran kedudukan yang termulia. Jasadnya bersama orang banyak, namun hatinya bersama Allah SWT.

Maka demikian pulalah yang dijalani cucu Shahiburratib ini, yang termasuk dari golongan yang mengajar dan mengingatkan orang kepada jalan yang benar. Karena demikian pulalah Rasulullah SAW, yang hatinya tak lagi berjarak dengan Allah SWT, tapi juga senantiasa berada di tengah-tengah umat.

"Saya menyarankan agar mereka, orang-orang yang memiliki wawasan ilmu yang cukup itu, berjalan dari satu desa ke desa lain untuk berdakwah," ujar Habib Salim menjelaskan dalam majelis rauhahnya itu. "Kenapa sasarannya desa atau daerah terpencil?" tanya Habib Salim.

Sebab, menurut Habib Salim, "Daerah-daerah terpencil seperti itu pada umumnya penduduknya masih banyak yang jauh dari pemahaman agama. Sehingga, berdakwah di desa atau tem¬pat-tempat terpencil merupakan dakwah yang tepat sasaran," kata Habib Salim.

Maka, demikian pulalah Habib Abdullah dan orang-orang semacamnya, yang memilih kawasan terpencil, yang tak jarang penduduknya tak tersentuh oleh dakwah.

Selain mengajar dan berdakwah, Habib Abdullah juga seorang ulama sastrawan. Kumpulan syairnya dibukukan dalam bentuk diwan (kumpulan syair) yang diberi nama Al-Qalaid al-Lisan HAhl al-islam wa al-lman. la juga menulis sejumlah kitab, di antaranya Sullam ath-Thalib li A'la al-Maratib syarah Ratib al- Haddad, Hujjah al-Mu'minin fi Tawassul bisayyidil Mursalin, Maulidil Haddad — dalam bentuk nazham (prosa) tentang kelahiran Rasulullah SAW.

 Sampai akhirnya, pada hari Jum'at sore, tanggal 15 Shafar 1331 H di kota Bangil, ia dipanggil menghadap Sang Khaliq. la dimakamkan dekat mushallanya yang terletak di daerah Sangeng Kramat, Bangil. Putranya yang masih hidup dan dewasa saat wafatnya adalah Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddad, Habib Ahmad bin Abdullah Al-Haddad, dan Habib Ali bin Abdullah Al-Haddad, seorang yang alim dan sabar. Setiap tanggal 27 Shafar diadakan acara haul di makamnya di Sangeng Kramat, Bangil.

 Habib Abdullah memiliki beberapa sahabat akrab, di antaranya Habib Abdul Qadir bin Alwi Assegaf Tuban, yang dikenalnya sejak usia remaja. Di akhir umurnya, Habib Abdullah Al-Hadad berkirim surat kepada sang sahabat, yang di antaranya berisi, "Sesungguhnya jiwa-jiwa itu saling terpaut." Setelah Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad wafat, 27 hari kemudian Habib Abdul Qadir wafat menyusul kepergian Habib Abdullah menuju ke haribaan kekasih mereka, Allah SWT.

 

 

 

Disadur oleh M. Luqman Firmansyah dari Majalah Alkisah No. 01/Tahun XI hal. 138

DO'A AKHIR TAHUN DAN AWAL TAHUN ISLAM

 


Mrdr- Tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 1443 Hijriah.

Beberapa hari kedepan kita akan memasuki tahun baru Islam 1444 Hijriah.

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Islam.

Pada artikel ini, kami akan menulis tentang doa akhir tahun dan doa awal tahun.

Doa akhir tahun dan doa awal tahun kami tulis lengkap dalam bahasa Arab latin dan terjemahannya.

Tahun Baru Islam 1444 H atau 1 Muharram 1444 Hijriah jatuh pada tanggal 30 Juli 2022

Bulan Muharram sebagai bulan pertama memiliki nilai istimewa dalam Islam.

Dalam Alquran disebutkan bahwa bulan Muharram merupakan salah satu dari 4 bulan yang mulia.

Allah berfirman dalam Alquran surat at-taubah ayat 36:

 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

 

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”

 

Doa akhir tahun baru Islam

Kandungan makna dari doa yang diucapkan pada akhir tahun baru Islam adalah permohonan kepada Allah agar diberikan kebaikan yang lebih dari sebelumnya.

Dalam Doa tersebut juga terkandung Harapan dan permohonan atas cita-cita yang ingin diraih selama 1 tahun ke depan.

Tergantung juga Dalam makna doa adalah Meminta perlindungan kepada Allah yang Maha melindungi.

Pada umumnya, doa akhir tahun dibaca sebanyak 3 kali setelah salat magrib.

Berikut bacaan doa akhir tahun:

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِى هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَىَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِى وَدَعَوْتَنِى اِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَا ئَتِى عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى اَسْتَغْفِرُكَ فَغْفِرْلِى وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِى عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَاَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَ الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلاَ تَقْطَعَ رَجَائِى مِنْكَ يَاكَرِيْمُ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

 

BISMILLAAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM, WA SHALLALLAAHU ‘ALA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHI WA SHAHBIHII WA SALLAM. ALLAAHUMMA MAA ‘AMILTU FI HAADZIHIS-SANATI MIMMAA NAHAITANI ‘ANHU FALAM ATUB MINHU WA LAM TARDHAHU WA LAM TANSAHU WA HALAMTA ‘ALAYYA BA’DA QUDRATIKA ‘ALAA UQUUBATI WA DA’AUTANI ILATTAUBATI MINHU BA’DA JUR’ATI ALAA MA’SIYATIKA FA INNI ASTAGHFIRUKA FAGFIRLII WA MAA ‘AMILTU FIIHAA MIMMA TARDHAAHU WA WA’ADTANI ‘ALAIHITS-TSAWAABA FAS’ALUKALLAHUMMA YAA KARIIMU YAA DZAL-JALAALI WAL IKRAM AN TATAQABBALAHUU MINNI WA LAA TAQTHA’ RAJAAI MINKA YAA KARIM, WA SALLALLAAHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMIYYI WA ‘ALAA ‘AALIHII WA SAHBIHII WA SALLAM

Artinya: Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan dan penghulu kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau.

 

Ya Allah Apa yang saya lakukan pada tahun ini tentang sesuatu yang Engkau larang aku melakukannya, kemudian belum bertaubat, padahal Engkau tidak meridloi (merelakannya), tidak melupakannya dan Engkau bersikap lembut kepadaku setelah Engkau berkuasa menyiksaku dan Engkau seru aku untuk bertaubat setelah aku melakukan kedurhakaan kepada-Mu, maka sungguh aku mohon ampun kepada-Mu, ampunilah aku!

Dan apapun yang telah aku lakukan dari sesuatu yang Engkau ridloi dan Engkau janjikan pahala kepadaku, maka aku mohon kepada-Mu ya Allah, Dzat Yang Maha Pemurah, Dzat Yang Maha Luhur lagi Mulia, terimalah persembahanku dan janganlah Engkau putus harapanku dari-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah! Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau.

DOA AWAL TAHUN

Kandungan makna doa awal tahun Islam adalah Meminta perlindungan dan pertolongan kepada Allah dari gangguan setan.
Selain itu, juga terkandung makna Harapan agar diberikan kesuksesan cita-cita selama setahun ke depan. 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اَنْتَ اْلاَ بَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرَمِ جُوْدِكَ الْمُعَوَّلُ وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ اَقْبَلَ اَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَاَوْلِيَائِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلاَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى اِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

 

BISMILLAAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM. WA SHALLALLAAHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA ‘AALIHI WA SHAHBIHII WA SALLAM. ALLAAHUMMA ANTAL-ABADIYYUL-QADIIMUL- AWWALU, WA ‘ALAA FADHLIKAL-’AZHIMI WUJUUDIKAL-MU’AWWALI, WA HAADZA ‘AAMUN JADIDUN QAD AQBALA ILAINA NAS’ALUKAL ‘ISHMATA FIIHI MINASY-SYAITHAANI WA AULIYAA’IHI WA JUNUUDIHI WAL’AUNA ‘ALAA HAADZIHIN-NAFSIL-AMMAARATI BIS-SUU’I WAL-ISYTIGHAALA BIMAA YUQARRIBUNI ILAIKA ZULFA YAA DZAL-JALAALI WAL-IKRAM YAA ARHAMAR-RAAHIMIN, WA SALLALLAAHU ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMIYYI WA ‘ALAA AALIHI WA SHAHBIHII WA SALLAM

Artinya: Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan dan penghulu kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau.

 

Ya Allah Apa yang saya lakukan pada tahun ini tentang sesuatu yang Engkau larang aku melakukannya, kemudian belum bertaubat, padahal Engkau tidak meridloi (merelakannya), tidak melupakannya dan Engkau bersikap lembut kepadaku setelah Engkau berkuasa menyiksaku dan Engkau seru aku untuk bertaubat setelah aku melakukan kedurhakaan kepada-Mu, maka sungguh aku mohon ampun kepada-Mu, ampunilah aku!

Dan apapun yang telah aku lakukan dari sesuatu yang Engkau ridloi dan Engkau janjikan pahala kepadaku, maka aku mohon kepada-Mu ya Allah, Dzat Yang Maha Pemurah, Dzat Yang Maha Luhur lagi Mulia, terimalah persembahanku dan janganlah Engkau putus harapanku dari-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah! Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau.

Doa awal tahun biasanya dibaca sebanyak tiga kali setelah Maghrib.
Doa awal tahun berisi tentang harapan harapan yang akan atau ingin dicapai selama satu tahun ke depannya.

 

 

SIAPAKAH RIJALUL GHOIB







Rijalul Ghaib adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak kasat mata yaitu tidak tampak oleh mata manusia. Tugasnya adalah untuk menjalankan perintah Allah dalam membantu manusia memenuhi segala hajat dan keperluannya.

Tentang Rijalul ghaib ini pernah di sebutkan oleh Imam Ahmad Al Buni dalam kitabnya Manba Ushulul Hikmah halaman 230 mengatakan:


“Ketahuilah, bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi dengan kemurahan-Nya yang besar terhadap manusia, Dia ciptakan ruh-ruh dari bangsa malaikat yang berkeliling ke seluruh pelosok bumi, membantu orang-orang yang mempunyai hajat, supaya hajatnya itu terpenuhi dan keinginannya tercapai. Barang siapa yang bertepatan waktu hajatnya dengan arah tempat mereka berada, kemudian berdoa kepada Allah Ta’ala, mereka akan mengaminkan doanya itu, maka doa akan dikabulkan dan permintaannya akan diperolehnya.’’ Ada petunjuk atau cara untuk mengetahui posisi Rijalul Ghaib itu tiap-tiap dalam sebulan (menurut perhitungan bulan Hijriah). Posisi tempat keberadaan mereka itu selalu berpindah-pindah.


"LA TAHSABANNAL LADZI QUTILUU FI SABILILLAHI AMWATAN, BAL AHYAUN INDA ROBBIHIM YURZAQUNA" (ALI IMRON : 169)

”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu MATI bahkan mereka itu hidup di sisi tuhannya dengan mendapat rezqi “

Kehidupan mereka yang dimaksudkan adalah alam yang lain, bukanlah alam dunia ini, mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, Dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan kehidupan nya itu.

Dari kitab Jawahir Al-Khomsi Syeikh Khotiruddin Bayazid Al-Khowajah dan Kitab Jami’u Karomatil Aulia kepunyaan Syeikh Yusuf ibni Isma’il An-Nabhani R.A , bahwa Rizalul Ghaib merupakan salah satu pangkat kewalian dari 37 pangkat/Maqom para Wali.

Berikut ini Pangkat/Maqom nya para Aulia Allah :

1. Qutub Atau Ghauts (1 abad 1 Orang)

2. Aimmah (1 Abad 2 orang)

3. Autad (1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin)

4. Abdal (1 Abad 7 Orang tidak akan bertambah dan berkurang Apabila ada wali Abdal yang Wafat Alloh menggantikannya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain ( Abdal=Pengganti ) Wali Abdal juga ada yang Waliyahnya ( Wanita )

5. Nuqoba’/Naqib (1 Abad 12 orang Di Wakilkan Alloh Masing-masing pada tiap-tiap Bulan)

6. Nujaba’ (1 Abad 8 Orang)

7. Hawariyyun (1 Abad 1 Orang) Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang (Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi.

8. Rojabiyyun (1 Abad 40 Orang Yg tidak akan bertambah & Berkurang Apabila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Alloh mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun.

9. Khotam (penutup Wali)(1 Alam dunia hanya 1 orang) Yaitu Nabi Isa A.S ketika diturunkan kembali ke dunia Alloh Angkat menjadi Wali Khotam (Penutup).

10. Qolbu Adam A.S (1 Abad 300 orang)

11. Qolbu Nuh A.S (1 Abad 40 Orang)

12. Qolbu Ibrohim A.S (1 Abad 7 Orang)

13. Qolbu Jibril A.S (1 Abad 5 Orang)

14. Qolbu Mikail A.S (1 Abad 3 Orang tidak kurang dan tidak lebih Alloh selau mengangkat wali lainnya Apabila ada salah satu Dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat)

15. Qolbu Isrofil A.S (1 Abad 1 Orang)

16. Rijalul ‘Alamul Anfas (1 Abad 313 Orang)

17. Rijalul Ghoib (1 Abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang tiap2 Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib merupakan Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, Dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari golongan Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatupun dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib.

18. Adz-Dzohirun (1 Abad 18 orang)

19. Rijalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang)

20. Khomsatur Rizal (1 Abad 5 orang)

21. Rijalul Hanan (1 Abad 15 Orang)

22. Rijalul Haybati Wal Jalal (1 Abad 4 Orang)

23. Rijalul Fath (1 Abad 24 Orang) Alloh mewakilkannya di tiap Sa’ah (Jam) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat (Arah Mata Angin)

24. Rijalul Ma’arijil ‘Ula (1 Abad 7 Orang)

25. Rijalut Tahtil Asfal (1 Abad 21 orang)

26. Rijalul Imdad (1 Abad 3 Orang)

27. Ilahiyyun Ruhamaniyyun (1 Abad 3 Orang) Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal

28. Rijalun Wahidun (1 Abad 1 Orang)

29. Rijalun Wahidun Markabun Mumtaz (1 Abad 1 Orang) Wali dengan Maqom Rijalun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny (Bukan Murni Manusia), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia, Wali dengan Pangkat ini tubuhnya terdiri dari 2 jenis yang berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut ”Rijalun Barzakh ” Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA ‘ALA KULLI SAY IN QODIRUN ” Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Kuasa.

30. Syakhsun Ghorib (di dunia hanya ada 1 orang)

31. Saqit Arofrof Ibni Saqitil ‘Arsy (1 Abad 1 Orang)

32. Rijalun Ghina ( 1 Abad 2 Orang) sesuai Nama Maqomnya/Pangkatnya Rizalul Ghina ”Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma’rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yang di jalankan di jalan Alloh, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya (Wanita).

33. Syakhsun Wahidun (1 Abad 1 Orang)

34. Rijalun Ainit Tahkimi waz Zawaid (1 Abad 10 Orang)

35. Budala’ (1 Abad 12 orang) Budala’ Jama’ nya/Jama’ Sigoh Muntahal Jumu’ dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal

36. Rijalun Istiyaq (1 Abad 5 Orang

37. Sittata Anfas (1 Abad 6 Orang) salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-’Alim Al-’Allamah Ahmad As-Sibt

38. Rizalul Ma’ (1 Abad 124 Orang) Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su’ud Ibni Syabil ” Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku “Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan” Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata “akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air”, Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba-tiba orang tersebut hilang dari pandanganku.

39. Dakhilul Hizab (1 Abad 4 Orang) Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yang lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Towaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba-tiba Syeikh melihat seorang Perempuan dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz dilihat di lauhil mahfudz nama perempuan ini tidak ada di barisan para Wali-wali Alloh, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Perempuan ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Allah memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab “Berada di Dalam Hizabnya Alloh”, Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa BerHusnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom-maqom Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karna Alloh S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing-masing sesuai Pangkatnya atau Maqomnya.

Susunan Maqom/Pangkat Para Aulia ini bersumber dari terjemahan kitab Jami’u Karomatil Aulia (Kumpulan Karomah-karomah Para Wali), Perlu di ketahui bahwa Maqomnya para Aulia tidak tetap tapi naik walaupun mereka sudah Meninggal.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد.

Pelapak sholawat.

Memperkuat zakar

Khusus untuk laki-laki   Memperkuat zakar Sebagian ada dari para suami yang mengeluh mungkin karena masalah dengan kejantannya bukan berarti...